Hari Radio, Ini Dia Perintis Penyiaran Indonesia
- 10 Sep 2025 09:01 WIB
- Kediri
KBRN, Kediri: Hari Radio Nasional diperingati setiap tahunnya pada 11 September, sekaligus memperingati hari jadi Radio Republik Indonesia sebagai tonggak utama lahirnya Hari Radio Nasional. Perayaan Hari Radio bukan sekedar seremonial melainkan mengingatkan kembali bagaimana peran radio menjadi mediator, fasilitator, dan motivator dalam menyampaikan informasi dan aspirasi antara rakyat dan pemerintah.
Seiring perkembangan jaman, banyak media radio semakin maju dan menghasilkan para penyiar-penyiar handal. Namun sejarah tak boleh dilupakan, tahukah anda siapa saja perintis penyiaran Indonesia?
Dikutip dari laman resmi Komisi Penyiaran Indonesia, terdapat sejumlah tokoh yang merintis dunia penyiaran pada akhir dekade 1920-an hingga dekade 1940-an antara lain Sarsito Mangunkusumo (Ketua SRV), Sutarjo Kartohadikusumo (Ketua PPRK, anggota Volksraad), Abdulrahman Saleh (Ketua VORO, Kepala RRI pertama), Maladi (Kepala RRI kedua, Menteri Penerangan), Bung Tomo (orator peristiwa 10 November 1945), Jusuf Ronodipuro (penyiar naskah Proklamasi), Haji Agus Salim (penyiar agama Islam), dan Gusti Nurul (putri MN VII).
Namun sebelum nama-nama ini disebut, nama Mangkunagoro VII pernah diusulkan sebagai Bapak Penyiaran karena ia memprakarsai berdirinya SRV 1 April 1933, sebagai stasiun radio pertama milik bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia. Namun, penetapan tersebut dibatalkan dikarenakan MN VII dianggap sebagai sosok yang kurang dikenal, termasuk di kalangan penyiaran sendiri.
Semua tokoh tersebut, memiliki perannya yang penting dalam bidang penyiaran pada awal perkembangan radio di Indonesia. Mereka berjasa dalam dunia penyiaran atau menggunakan penyiaran sebagai alat perjuangan bangsa. Para tokoh ini ada yang dikenal sebagai praktisi radio seperti Maladi, Abdulrahman Saleh, Jusuf Ronodipuro, Bung Tomo, dan Haji Agus Salim. Sementara Sarsito Mangunkusumo, Sutarjo Kartohadikusumo, dan Gusti Nurul, bukanlah praktisi radio namun memiliki pengaruh besar dalam pengembangan radio di Indonesia.
Sarsito Mangunkusumo (1897-1987) adalah tangan kanan MN VII di bidang penyiaran. Ia mengenal radio sejak akhir dekade 1920-an. Sarsito berjasa meletakkan dasar-dasar pengelolaan atau manajemen radio Ketimuran (radio pribumi), membantu dan membina sejumlah radio Ketimuran di Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta dan Surabaya. Sarsito juga menjadi tempat bertanya para aktivis Radio Ketimuran yang baru mendirikan stasiun radio.
Sutarjo Kartohadikusumo (1892-1976), seorang politisi yang terkenal pada masanya. Ia menjadi anggota Volksraad, yang merupakan sebuah parlemen bentukan Pemerintah Hindia Belanda. Ketika Sutarjo di Volksraad, Radio Ketimuran menghadapi masalah dalam hubungannya dengan NIROM (Netherlands Indicshe Radio Oemroep Maschappij). Pada saat itulah Sutarjo membantu memperjuangkan hak-hak Radio Ketimuran yang dianggap terampas dalam perundingan dengan NIROM. Ia kemudian dianggap berhasil menjembatani konflik Radio Ketimuran yang diwakili oleh PPRK dengan NIROM.
Haji Agus Salim, dikenal sebagai politisi ulung di Volksraad. Pengalaman hidupnya lengkap dari mulai dari ia menjabat sebagai pegawai Konsulat Belanda di Arab Saudi yang direkrut Snouck Hurgronje hingga karirnya melejit aebagai pimpinan partai politik. Ia kemudian mencoba untuk beralih melakukan kegiatan dakwah. Kegiatannya sebagai mubaligh mengantarkan Agus Salim berkenalan dengan radio yang digunakan sebagai media dakwah. Agus Salim menggunakan Radio Ketimuran Vereeniging Oostersche voor Radio Oemroep (VORO) dan radio Belanda (NIROM) untuk menyampaikan dakwahnya.
Gusti Nurul adalah putri MN VII. Ia dikenal dalam dunia penyiaran radio karena banyak mewakili ayahandanya. Ia melakukan sejumlah seremoni penyiaran atas nama MN VII pada usianya yang masih remaja. Sementara, Maladi dan Abdulrahman Saleh adalah dua tokoh yang yang telah tercatat sebagai orang radio yang masuk dalam Generasi sebelum Kemerdekaan, tapi sekaligus juga masuk dalam Generasi setelah Kemerdekaan.
Abdulraman Saleh tercatat sebagai Ketua stasiun radio VORO pada periode 1936-1939. Lalu ia mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI), 11 September 1945 dan memilih Abdulrahman Saleh sebagai ketuanya. Sosok lain yang tidak kalah penting adalah Maladi. Maladi sebelumnya telah aktif bekerja di SRV Solo, khususnya penyiar olah raga. Tidak lama kemudian posisi Maladi naik menjadi pengurus di SRV, yang diketuai Sarsito Mangunkusumo. Setahun setelah RRI berdiri, Maladi menggantikan Abdulrahman Saleh sebagai Kepala RRI Pusat.
Tokih penting penyiaran yang juga menjadi ikon RRI saat ini adalah Jusuf Ronodipuro. Ia mulai bekerja di bidang radio pada zaman Jepang. Namanya melambung setelah Proklamasi Kemerdekaan yaitu ketika malam hari 17 Agustus 1945 sekitar pukul 19.00, ia membacakan naskah Proklamasi yang siang sebelumnya dibacakan oleh Bung Karno.
Tokoh terakhir yang berpengaruh dldam dunia penyiaran dan perkembangan radio saat ini adalah arek Suroboyo, bernama Bung Tomo. Bung Tomo adalah Kepala Seksi Penerangan organisasi gerilyawan bernama Pemuda Republik Indonesia (PRI). Ia mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), 12 Oktober 1945. BPRI juga mendirikan stasiun radio yang bernama “Radio Pemberontakan”. Melalui siaran radio itu Bung Tomo menggerakkan arek-arek Surabaya melawan para Sekutu. Ketika stasiun radio Pemberontakan belum rampung dibangun, Bung Tomo berpidato di studio RRI, namun dibuat seolah-olah RRI merelay dari Radio Pemberontakan Rakyat milik Bung Tomo.