Transaksi Saham Masyarakat Kediri Capai Rp3,63 T
- 11 Jun 2026 12:48 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Nilai transaksi saham masyarakat di wilayah kerja OJK Kediri mencapai Rp3,63 triliun
- Hal ini meningkat signifikan sebesar 113,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya
RRI.CO.ID, Kediri - Nilai transaksi saham masyarakat di wilayah kerja OJK Kediri mencapai Rp3,63 triliun. "Hal ini meningkat signifikan sebesar 113,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri, Ismirani Saputri, dalam keterangannya, Kamis, 11 Juni 2026.
Peningkatan jumlah investor dan aktivitas transaksi tersebut, jelas Ismirani, menunjukkan semakin meningkatnya minat masyarakat dalam memanfaatkan instrumen pasar modal. "Khususnya, sebagai alternatif investasi yang legal dan terawasi," katanya.
Dengan demikian, Ismirani meyakini, tingkat inklusi di bidang Pasar Modal terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Jumlah Single Investor Identification (SID) tumbuh 54,78 persen (yoy) menjadi 643.057 SID.
"Instrumen investasi masih didominasi oleh produk Reksadana, dengan jumlah investor mencapai 599.514 SID atau tumbuh 54,26 persen (yoy)," katanya.
Sementara itu, OJK Kediri mencatat kinerja sektor jasa keuangan di wilayah eks-Karesidenan Kediri dan eks-Karesidenan Madiun sampai dengan posisi Maret 2026 tetap terjaga dengan baik dan menunjukkan resiliensi di tengah dinamika perekonomian global maupun domestik.
"Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan, pertumbuhan investor pasar modal yang signifikan, serta penguatan pelaksanaan edukasi keuangan dan pelindungan konsumen," katanya.
Namun demikian, sebut Ismirani, OJK tetap mencermati sejumlah sektor yang mengalami perlambatan. Hal paling utama, yang dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat serta dinamika kondisi ekonomi global.
"Kinerja sektor perbankan di wilayah kerja OJK Kediri tetap terjaga dengan dukungan likuiditas yang memadai," katanya.
Ia merinci, hingga Maret 2026, aset perbankan tumbuh 3,84 persen (yoy) menjadi Rp116,20 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5,26 persen (yoy) menjadi Rp109,26 triliun. "Pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh peningkatan pada produk tabungan dan giro menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan yang tetap terjaga," katanya.
Di sisi intermediasi, lanjut Ismirani, penyaluran kredit tetap berjalan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian di tengah dinamika perekonomian dan perkembangan berbagai sektor usaha. "Profil risiko perbankan juga tetap terjaga dengan rasio kredit/pembiayaan bermasalah (Non-Performing Loan/Financing) sebesar 3,76 persen, yang masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....