Masyarakat Kediri Keluhkan Kenaikan Harga Pertamax

  • 10 Jun 2026 14:23 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Sejumlah masyarakat di Kediri mulai mengeluhkan kenaikan harga Pertamax yang diberlakukan per tanggal 10 Juni 2026
  • Kenaikan harga Pertamax itu dipicu oleh berbagai faktor eksternal, di antaranya, penguatan kurs dolar Amerika Serikat

RRI.CO.ID, Kediri - Sejumlah masyarakat di Kediri mulai mengeluhkan kenaikan harga Pertamax yang diberlakukan per tanggal 10 Juni 2026. Hal itu disampaikan oleh Muhamad Aji, seorang warga asal Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri.

"Tentu kami merasa keberatan dengan kenaikan harga Pertamax ini. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit sekarang," kata Muhammad Aji, Rabu, 10 juni 2026.

Ia khawatir, kenaikan harga Pertamax tersebut, dapat menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap penumpukan konsumen yang sebelumnya membeli Pertamax, menjadi beralih ke Pertalite. "Sebab, kalau kita lihat selisih kenaikan Pertamax dan penerapan harga Pertalite, memang cukup lumayan," kata Aji.

Diketahui, pada 10 Juni 2026, harga Pertamax RON 92 yang sebelumnya Rp 12.300 per liter naik menjadi Rp 16.250 per liter. Lalu, Pertamax Green RON 95 juga mengalami kenaikan cukup signifikan dari Rp 12.900 menjadi Rp 19.000 per liter.

Pantauan di sejumlah SPBU di Kabupaten Kediri menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat. Di SPBU wilayah Kecamatan Pare, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite terlihat lebih padat dibanding biasanya.

Sebaliknya, jalur pengisian Pertamax tampak lengang. Banyak pengendara memilih beralih ke BBM bersubsidi karena selisih harga yang dinilai terlalu jauh.

Salah satu warga Kecamatan Badas, Azis Fanani mengaku beralih membeli jenis Pertalite, setelah mengetahui adanya kenaikan harga. "Ya kalau sebelumnya pakai Pertamax, tapi karena sekarang mahal, ya lebih baik beli Pertalite," ujar Azis Fanani saat mengisi BBM di SPBU Desa Pelem, Pare, Kabupaten Kediri.

Azis Fanani berharap, pemerintah mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat sebelum mengambil kebijakan kenaikan harga BBM. "Kami inginnya, kenaikan ini jangan terlalu tinggi, ya harusnya seimbang dengan pendapatan warga supaya tidak memberatkan," katanya.

Wakil Kepala Mandor SPBU Pelem, Yulianto mengatakan, dampak kenaikan harga belum terlihat signifikan pada hari pertama pemberlakuan tarif baru. "Sebagian masyarakat masih belum mengetahui adanya perubahan harga karena informasi baru diterima SPBU pada Selasa malam, 9 Juni 2026," kata Yulianto.

Ia memastikan, untuk saat ini belum bisa terlihat dampaknya karena mungkin masih banyak konsumen yang belum mengetahui. Dengan demikian, volume penjualan saat ini juga belum bisa dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.

"Namun, dengan adanya informasi terbaru kenaikan Pertamax ini, pihak SPBU langsung melakukan penyesuaian harga pada papan informasi dan mesin dispenser setelah menerima pemberitahuan resmi. Setelah itu, operator SPBU juga diminta menyampaikan informasi kenaikan harga kepada konsumen sebelum melakukan pengisian BBM," katanya.

Terpisah, Area Manager Communication, Relations, & CSR untuk PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membenarkan, bahwa kenaikan harga Pertamax itu dipicu oleh berbagai faktor eksternal, di antaranya, penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS).

"Meski harga BBM nonsubsidi mengalami perubahan, tetapi hal itu tidak berdampak pada keamanan stok energi tersebut. Beragam produk BBM, saat ini ketersediannya masih aman, dan di tengah masyarakat tidak ada gejolak," kata Ahad Rahedi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....