Luka dan Kebiasaan Membandingkan Diri Bisa Menuakan Hati

  • 07 Okt 2026 08:00 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Merawat hati menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan, terutama ketika seseorang memasuki usia yang semakin bertambah. Selain perubahan fisik, perjalanan usia juga dapat membawa berbagai pengalaman, termasuk luka, kekecewaan, dan persoalan yang berpotensi memengaruhi kondisi batin seseorang.

Ustazah Nurul Hikmah, Dosen Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya, menjelaskan bahwa usia yang bertambah tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan semangat untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.

Menurutnya, salah satu tanda hati mulai ‘menua’ secara spiritual adalah ketika seseorang terlalu lama menyimpan luka. “Peristiwa yang terjadi mungkin sudah berlalu, tetapi hati masih terus mengulang kejadian tersebut hingga menimbulkan rasa lelah dan mengganggu ketenangan hidup,” katanya dalam kajian di RRI, Rabu, 07 Oktober 2026.

Luka hati yang tidak dirawat, lanjutnya, dapat membuat seseorang merasa tua sebelum waktunya. Perasaan kecewa, iri, dendam, atau merasa tidak dihargai dapat menjadi penyakit hati apabila tidak disikapi dengan upaya untuk memperbaiki dan mengobatinya.

Tanda lainnya adalah terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Kondisi tersebut semakin mudah terjadi di era media sosial, ketika seseorang dapat melihat pencapaian, kehidupan, maupun kebahagiaan orang lain hanya melalui layar. “Jika tidak disikapi dengan bijak, kebiasaan tersebut dapat mengurangi rasa syukur terhadap kehidupan sendiri,” katanya.

Ustazah Nurul menekankan pentingnya kemampuan untuk memaafkan. Memaafkan bukan hanya berkaitan dengan orang lain, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang bagi hati agar lebih damai. Ia juga mengingatkan agar seseorang tidak ragu meminta maaf apabila dalam berinteraksi dengan orang lain pernah melakukan kesalahan.

“Selain memaafkan, rasa syukur juga menjadi bagian penting dalam menjaga hati. Menurutnya, usia yang bertambah seharusnya tidak membuat rasa syukur berkurang. Justru semakin bertambah usia, seseorang diharapkan semakin menyadari nikmat Allah dan semakin menjaga kedekatan dengan-Nya,” katanya.

Hal tersebut sejalan dengan pesan dalam QS Ar-Ra’d ayat 28 bahwa ketenteraman hati berkaitan dengan mengingat Allah. Nurul Hikmah menjelaskan, ketenangan tidak selalu berarti seluruh persoalan hidup telah selesai. Terkadang masalah masih ada, tetapi hati menjadi lebih kuat untuk menghadapinya karena tetap terhubung dengan Allah.

Ia juga mengaitkan upaya merawat hati dengan QS Asy-Syams ayat 9 dan 10 mengenai keberuntungan orang yang menyucikan jiwa dan kerugian bagi orang yang mengotorinya. Menurutnya, proses membersihkan dan menumbuhkan jiwa bukan pekerjaan sekali jadi, melainkan harus dilakukan setiap hari.

Ia mengajak masyarakat menjadikan perawatan hati sebagai bagian dari rutinitas kehidupan. Berdoa untuk ketenangan hati, bersyukur, melakukan introspeksi, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, serta belajar memaafkan menjadi langkah yang dapat dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, meskipun usia terus bertambah, hati tetap memiliki semangat untuk mencintai kebaikan dan dekat kepada Allah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....