Berjiwa Nasionalisme Sejati dalam Perspektif Islam
- 14 Agt 2026 23:21 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Berjiwa Nasionalisme Sejati dalam Perspektif Islam
- Refleksikan nikmat kemerdekaan yang telah dirasakan bangsa Indonesia selama puluhan tahun dengan semangat bela negara
RRI.CO.ID, Kediri – RRI.CO.ID, Kediri - Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, pesan tentang pentingnya memiliki jiwa nasionalisme sejati dalam perspektif Islam disampaikan dalam khutbah Salat Jumat di Masjid Agung An-Nuur, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Jumat 14 Agustus 2026. Khotib Salat Jumat Muhammad Mujab menegaskan, semangat kebangsaan tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan justru dapat menjadi bagian dari perwujudan iman seorang muslim.
“Semangat kebangsaan bukan sekadar slogan musiman, melainkan bagian penting dalam perwujudan iman seorang muslim kepada Allah SWT,” kata Muhammad Mujab, Khotib Salat Jumat. Ia menegaskan, Islam tidak pernah mempertentangkan loyalitas keagamaan dengan kecintaan terhadap tanah air, di mana pun seorang warga negara Indonesia bermukim.
| Baca juga: Al-Qur'an Menuntun Kita Berbuat Benar |
Dalam khutbahnya, Muhammad Mujab yang merupakan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pare mengutip teladan mulia Nabi Muhammad SAW yang menunjukkan kecintaan luar biasa terhadap Kota Makkah dan Madinah selama masa kerasulan beliau. Menjaga kerukunan antarumat beragama dan saling menghormati merupakan hak sesama warga negara.
Dalam sudut pandang Islam, nasionalisme sejati adalah komitmen untuk menjaga kedamaian, merawat persatuan, dan berkontribusi positif bagi kemajuan serta kesejahteraan bangsa. Menyoroti pentingnya menjaga ukhuwah wathaniyah hingga menghormati perbedaan yang ada di bumi nusantara merupakan ketetapan yang harus disyukuri, bukan pemicu perpecahan.
Jiwa nasionalisme umat Islam saat ini harus dibuktikan melalui aksi nyata, khususnya dalam melawan segala bentuk ketidakadilan, korupsi, dan kemiskinan. Menjadi nasionalis sejati berarti menjadi pribadi yang amanah dalam mengemban tanggung jawab, baik sebagai aparatur sipil, pengusaha, maupun masyarakat biasa dari golongan dan strata apapun.
Pancasila dan UUD 1945 merupakan kesepakatan para pendiri bangsa, termasuk di dalamnya para ulama dan kiai yang selaras dengan berbagai nilai-nilai luhur yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, setia pada kesepakatan bangsa adalah kewajiban moral dan bagian dari kepatuhan beragama.
“Mari kita refleksikan nikmat kemerdekaan yang telah dirasakan bangsa Indonesia selama puluhan tahun dengan semangat bela negara melalui kerja keras demi mencerdaskan kehidupan bangsa dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” ujar Ustaz Mujab, sapaan akrabnya, menjelang akhir khutbah Jum’at dengan ratusan jemaah ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....