Merangkul Lelah Hidup dengan Ridha dan Ikhtiar

  • 25 Jul 2026 08:51 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Kelelahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan setiap manusia. Baik mereka yang bekerja keras secara fisik maupun yang bergelut dengan beban pikiran, setiap orang memiliki bentuk kelelahan yang berbeda. Karena itu, rasa lelah tidak perlu disembunyikan atau dianggap sebagai kelemahan, melainkan diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Hal tersebut disampaikan Ustaz M. As'ad Efendy, Pengasuh Majelis Ta'lim Masjid At-Taqwa Tirtoudan Kota Kediri, dalam kajian Mutiara Pagi di RRI Pro 1 Kediri. Menurutnya, kelelahan bukanlah musuh, tetapi pintu yang mengantarkan seseorang menuju kenikmatan setelahnya. Ia mencontohkan ibadah puasa, di mana rasa lapar dan haus yang dirasakan sepanjang hari akan menghadirkan kenikmatan saat waktu berbuka tiba.

Ia menjelaskan, dalam kehidupan sehari-hari pun kelelahan memiliki hikmah. Seseorang dapat merasakan nikmatnya tidur setelah bekerja karena tubuh telah letih. Tanpa adanya kelelahan, kenikmatan beristirahat tidak akan terasa. Karena itu, Allah SWT menghadirkan rasa lelah agar manusia mampu merasakan manisnya nikmat yang diberikan-Nya.

“Dalam Islam tidak semua kesulitan dan kelelahan memiliki sebab yang sama. Pertama adalah musibah, yakni kesulitan yang muncul akibat kelalaian atau kesalahan manusia sendiri. Dalam kondisi ini, sikap yang perlu dilakukan adalah introspeksi, bermuhasabah, dan memperbaiki diri agar kesalahan tidak terulang,” ucapnya, Sabtu, 25 Juli 2026.

Jenis kedua adalah azab lanjutnya, yaitu kesulitan yang datang sebagai akibat dari perbuatan dosa atau penyimpangan yang dilakukan seseorang. Misalnya, rezeki yang tidak membawa keberkahan karena diperoleh melalui cara yang tidak halal. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peringatan agar manusia segera kembali kepada jalan yang benar.

Sementara itu, jenis ketiga adalah ujian, yaitu cobaan yang diberikan Allah SWT bukan karena dosa, melainkan sebagai bentuk kasih sayang dan sarana meningkatkan derajat hamba-Nya. “Orang saleh bisa saja mengalami sakit, kehilangan, atau kesulitan ekonomi tanpa didahului kesalahan. Ujian semacam ini merupakan bagian dari ketetapan Allah yang mengandung hikmah besar bagi kehidupan seorang mukmin,” katanya.

Mengutip Surah Al-Anbiya ayat 35, ia menjelaskan bahwa Allah menguji manusia dengan kebaikan maupun keburukan. Kesehatan maupun sakit, kelapangan maupun kesempitan, semuanya merupakan ujian yang akan berakhir ketika manusia kembali kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, penting bagi setiap orang untuk mampu membedakan antara musibah, azab, dan ujian agar dapat menyikapinya dengan tepat.

Ustaz As'ad mengajak umat Islam untuk melatih sikap ridho dalam menghadapi berbagai ketidakpastian hidup. Ridho bukan berarti menyerah, melainkan menerima ketetapan Allah dengan lapang hati sambil tetap berikhtiar. Menurutnya, keinginan untuk memastikan segala sesuatu sering kali menjadi sumber kelelahan. Ia pun mengajak jamaah memperbanyak doa, "Ya Hayyu Ya Qayyum, bi rahmatika astaghits," agar hati senantiasa kuat menghadapi ujian dan mampu menemukan ketenangan dalam setiap ketetapan Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....