Menyambut Iduladha: Maksimalkan Amalan di 10 Hari Pertama Dzulhijjah

  • 19 Mei 2026 06:55 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Hari Raya Iduladha 1447 H sudah semakin dekat. Sesuai dengan ketetapan dan imbauan dari Kementerian Agama Republik Indonesia mengenai ketepatan waktu pelaksanaan hari raya, umat Muslim diharapkan dapat menyambut dan melaksanakannya dengan sebaik mungkin.

Salah satu langkah utamanya adalah dengan memperdalam pemahaman mengenai amalan-amalan apa saja yang dianjurkan untuk dilakukan menjelang dan saat hari raya kurban tersebut tiba.

Pengasuh Pondok Pesantren Mazro'atul Ulum Kandangan Kediri, Ustaz Muhammad Arwani, S.Pd.I., mengingatkan bahwa begitu memasuki tanggal 1 Dzulhijjah, umat Muslim sebenarnya telah masuk ke dalam satu waktu yang memiliki keutamaan luar biasa, bahkan lebih besar dari bulan Ramadhan. Ia menegaskan bahwa sepuluh hari awal di bulan Dzulhijjah memiliki nilai kebaikan yang melampaui sepuluh hari pertama di bulan suci Ramadhan.

"Kita sangat disuruh untuk memperbanyak amal saleh di waktu ini, mulai dari membaca Al-Qur'an, memperbanyak shalat sunnah, sedekah, hingga berpuasa. Namun, kalau memang kita merasa tidak bisa melakukan amalan-amalan tersebut secara maksimal, minimal kita menjaga diri dengan tidak berbuat zalim kepada diri sendiri," ujar Ustaz Arwani saat menyampaikan materi kajian, Selasa, 19 Mei 2026.

Lebih lanjut, Ustaz Arwani menjelaskan bahwa umat Muslim dianjurkan menyambut 1 Dzulhijjah dengan berpuasa sunnah. Pahala puasa tersebut akan bernilai semakin tinggi seiring bergantinya hari di bulan Dzulhijjah, yang kemudian ditutup dengan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah.

“Memasuki puncaknya pada tanggal 10 Dzulhijjah yaitu Hari Raya Kurban, umat Muslim sudah diharamkan untuk berpuasa karena saatnya melaksanakan ibadah penyembelihan,” tambahnya.

Terkait ibadah kurban, Ia memaparkan bahwa hukum asalnya adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat ditekankan bagi seluruh umat Islam yang mampu. Mengacu pada mazhab Imam Syafi'i, keberadaan satu hewan kurban dalam satu rumah sudah dapat menggugurkan tuntutan dan seluruh anggota keluarga di rumah tersebut sudah mendapatkan pahala berkurban. Sebaliknya, jika satu keluarga yang tergolong mampu namun enggan berkurban, maka hukumnya menjadi makruh.

Ustaz Arwani juga meluruskan anggapan keliru di masyarakat yang menilai ibadah kurban cukup dilakukan sekali seumur hidup. "Banyak yang berpendapat kalau satu orang itu kurbannya cukup sekali dalam hidup, padahal perumpamaannya bukan begitu. Kalau kita ada rezeki, ya kurban itu setiap tahun, sama seperti zakat fitrah yang kewajibannya berulang sekali dalam setahun. Insyaallah dengan berkurban, kita akan diberi keleluasan dalam rezeki dan urusan hidup, ibaratnya kita sedang meng-upgrade kendaraan kita untuk di akhirat nanti," ucapnya.

Ditengah maraknya Qurban digital yaitu dengan memasrahkan penyembelihan kepada penyelenggara secara online, Ustaz Arwani membagikan tips sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW, yakni jika mampu sebaiknya mencari hewan kurban sendiri dan menyembelihnya sendiri, atau diwakilkan jika tidak mampu.

Ia menyarankan agar penyaluran daging kurban diprioritaskan untuk lingkungan terdekat yang membutuhkan. Menariknya, Ia juga mengutip pendapat Ibnu Abbas bahwa substansi hari raya kurban adalah mengalirkan darah hewan, sehingga bagi yang benar-benar tidak mampu membeli kambing atau sapi, diperbolehkan menyembelih ayam, bebek, atau unggas lain yang layak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....