Waspada Tergelincir: Ustaz Mansur Ingatkan Pentingnya Menjaga Hati

  • 22 Apr 2026 06:59 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Manusia secara kodrat diciptakan penuh dengan kelemahan yang membuatnya rentan tergelincir, baik secara fisik maupun batiniyah. Hal ini ditegaskan oleh Ustaz Mansur, S.T., M.T., Pengasuh Majlis Ta’lim Nur Arofah Kota Kediri. Ustaz Mansur menjelaskan bahwa ketergelinciran dalam perbuatan sering kali terjadi karena sifat dasar manusia yang mudah tergoda oleh urusan duniawi.

Dalam kajian Mutiara Pagi di RRI, Rabu, 22 April 2026, Ustaz Mansur mengutip hadis mengenai kondisi manusia sebagai tempatnya salah dan lupa atau al insanu mahalul khoto’ wan nisyan. Namun, Allah SWT memberikan kemurahan dengan tidak menghitung dosa bagi umat Nabi Muhammad SAW yang melakukan kesalahan karena murni kelalaian atau ketidaksengajaan.

"Manusia memang tempatnya salah, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika seseorang sadar telah tergelincir namun justru meneruskannya, ini yang membuat Allah murka, seharusnya kalau tau kita tergelincir ya bersegera untuk meluruskannya bukan malah dilanjutkan," ucapnya.

Menurut Ustaz Mansur, Allah tidak berkenan kepada hamba yang sudah menyadari kesalahannya tetapi tidak segera melakukan perbaikan. Ketergelinciran adalah hal yang manusiawi, namun membiarkan diri terus mengikuti arus kesalahan tersebut merupakan sebuah dosa. Oleh karena itu, kesadaran untuk langsung berbenah diri menjadi kunci utama bagi setiap Muslim agar tidak terperosok lebih dalam.

“Kehati-hatian harus diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengambilan keputusan. Kita lihat bagaimana Rasulullah SAW mengajarkan ketenangan bahkan dari cara berjalan yang tidak terlalu lambat maupun terlalu kencang,” katanya. Prinsip keseimbangan ini harus dibawa dalam keseharian agar setiap langkah yang diambil tidak membawa risiko yang merugikan di kemudian hari.

Selain perbuatan, menjaga ucapan menjadi poin krusial agar seseorang tidak tergelincir. Ia mengingatkan bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia menjaga ucapannya atau lebih baik diam jika tidak mampu berkata baik.

"Menata kata-kata merupakan bentuk kehati-hatian lahiriah yang mencerminkan kualitas iman dan kedalaman batin seseorang." katanya.

Ustaz Mansur juga menekankan pentingnya sinkronisasi antara hati, ucapan, dan perbuatan, yang dalam ibadah disebut sebagai khusyuk. Jika tubuh dan hati sudah sinkron, maka potensi untuk tergelincir dalam kesalahan dapat diminimalisir. "Latihan kehati-hatian ini bisa dimulai dari salat yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketelitian dalam setiap gerakannya," tambahnya.

Ustaz Mansur juga mengingatkan bahwa nafsu sering kali menggiring manusia ke tempat-tempat duniawi yang terlihat menyenangkan namun berisiko dosa. Mengikuti tuntunan Rasulullah untuk selalu waspada adalah cara terbaik agar selamat dari jebakan hawa nafsu. Manusia harus terus berusaha menghindari risiko dosa dengan selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap helaan napas dan tindakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....