Kemarau Lebih Panjang, Sejumlah Wilayah di Kediri Rawan Krisis Air Bersih

  • 08 Jul 2026 16:16 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Memasuki musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri mulai memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih
  • BMKG juga mengimbau masyarakat agar menghemat penggunaan air bersih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca ekstrem, serta bagi petani diharapkan menyesuaikan jadwal tanam agar tidak terdampak kekeringan

RRI.CO.ID, Kediri - Memasuki musim kemarau tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri mulai memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Langkah ini dilakukan menyusul prakiraan dari BMKG yang menyebutkan bahwa musim kemarau di wilayah Kediri diprediksi berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah, mengingat dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya di wilayah yang selama ini rawan kekeringan. Pada Rabu, 8 Juli 2026, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi situasi tersebut.

"Salah satunya dengan mengirimkan surat edaran yang ditandatangani Sekretaris Daerah kepada seluruh perangkat desa dan camat di Kabupaten Kediri," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno.

Surat edaran tersebut, jelas Djoko, bertujuan untuk mendorong pemerintah desa melakukan mitigasi dini, termasuk mendata wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. "Pemetaan ini penting agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran ketika kondisi kekeringan mulai dirasakan masyarakat," katanya

Ia menambahkan, berdasarkan riwayat tahun sebelumnya, terdapat beberapa wilayah yang sempat mengalami kekurangan air cukup parah. "Salah satunya adalah Desa Ponggok di Kecamatan Mojo, yang tercatat menerima bantuan dropping air bersih selama kurang lebih tiga bulan," katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Dhoho Kediri, Satria, menjelaskan bahwa kemarau panjang tahun ini dipengaruhi oleh sejumlah fenomena iklim global. "Hal ini di antaranya adalah El Nino dan fenomena IOD positif yang terjadi di Samudera Hindia, yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di wilayah Indonesia," kata Satria.

Untuk itu, BMKG juga mengimbau masyarakat agar mulai menghemat penggunaan air bersih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca ekstrem, serta bagi petani diharapkan menyesuaikan jadwal tanam agar tidak terdampak kekeringan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....