APCI: Harga Cabai di Pasar Induk Pare Bergerak Tak Searah

  • 07 Jul 2026 21:06 WIB
  •  Kediri
Poin Utama
  • Harga aneka cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri Selasa 7 Juli 2026, bergerak tak searah
  • APCI memperkirakan fluktuasi harga akan terus terjadi sepekan ke depan, dan petani diimbau, menjaga kualitas panen agar serapan industri tetap lancar

RRI.CO.ID, Kediri - Harga aneka cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri Selasa 7 Juli 2026, bergerak tak searah. Kondisi ini tampak pada Cabai Rawit Merah (CRM) naik tajam, Cabai Merah Keriting (CMK) stagnan, dan Cabai Merah Besar (CMB) justru turun. Padahal pasokan ketiga jenis cabai sama-sama menyusut drastis.

Sesuai Data Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri mencatat pasokan CRM hanya 12 ton dari normal 35 ton atau turun 65,7 persen. Namun demikian, harga komoditas justru melesat.

Ketua APCI Kabupaten Kediri, Suyono menyatakan, harga CRM jenis Brengos 99 menjadi Rp33.000 per Kilogram atau naik Rp5.000 dari sebelumnya. Lalu, harga CRM jenis Asmoro 043 menjadi Rp32.000 per Kilogram atau naik Rp5.000.

"Harga CRM Pentol TUMI 99 menjadi Rp27.000 per Kilogram atau naik Rp4.000, dan Juwita 25 F1 menjadi Rp27.000 per Kilogram atau naik Rp6.000," katanya.

Berbeda dengan CRM, Suyono menyebutkan, harga CMK mengalami penurunan pasokan paling dalam sebesar 2 ton, sedangkan ketersediaan saat hari normal 10 ton, atau turun 80 persen.

"Kalau dilihat dari segi harga justru relatif tetap. Misal CRM jenis Bogos 1x1 F1 harganya Rp23.000 per Kilogram atau stagnan, sedangkan harga CRM jenis SBAD 46 menjadi Rp21.008 per Kilogram atau naik tipis Rp8," ungkapnya.

Sementara, imbuh Suyono, pasokan CMB juga terpantau turun sebesar 72,2 persen, dari 18 ton menjadi 5 ton, sedangkan harga bahan pangan ini ikut terkoreksi. Gada EVO Rp22.000 turun Rp2.000, Biola F1 Rp21.000 turun Rp1.000, Sandi 108 F1 Rp19.008 turun Rp2.992.

Suyono mengemukakan, kondisi tersebut dikarenakan serapan industri menjadi faktor utama.

'Penyerapan ke industri melalui Glower ada CMB 2 ton, CMK 1 ton, CRM 3 ton. CRM juga dikirim 1,5 ton ke Kalimantan," jelas Suyono.

Ia menyampaikan, untuk asal pasokan masih dari wilayah yang sama. CMB datang dari Kediri, Malang, Blitar, dan Jember. CMK dari Kediri dan Blitar, sedangkan CRM dari Kediri, Malang, dan Jawa Tengah.

"Sisa pasokan setelah diserap industri dan dikirim luar daerah digunakan untuk pasar modern dan tradisional di seluruh Jawa Timur. Itu membuat stok di pasar induk Pare terasa tipis," ujarnya.

Di samping itu, permintaan pasar terhadap CRM lebih tinggi dibanding CMB. Sebab, kalangan industri dan pedagang lebih banyak mencari rawit dan keriting.

"Karena itu harga rawit naik, sedangkan cabai besar turun karena demand-nya lebih rendah," ucapnya.

Untuk CMK, lanjut Suyono, yang harganya stagnan meski pasokan turun 80 persen. Ia menduga karena harga sudah berada di level tinggi sejak pekan lalu.

"Pasar masih menunggu. Kalau stok terus menipis, besar kemungkinan CMK akan menyusul naik," terangnya.

APCI memperkirakan fluktuasi harga akan terus terjadi sepekan ke depan. Petani diimbau, menjaga kualitas panen agar serapan industri tetap lancar.

"Momentum harga rawit naik ini bisa dimanfaatkan, tapi jangan panen terlalu muda," katanya menegaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....