Kain Tenun Doyo, Identitas Budaya Masyarakat Kubar

  • 13 Okt 2025 19:39 WIB
  •  Sendawar

KBRN,Sendawar: Tenun Doyo, mahakarya tradisional khas Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, terus memancarkan pesonanya sebagai simbol keindahan dan identitas budaya suku Dayak Benuaq dan Tunjung. Kain tenun ini memiliki keunikan yang membedakannya dari tenun lain, yaitu bahan bakunya yang ditenun dari serat daun doyo alami (Curculigo latifolia).

Setiap helai benang dan motif pada Tenun Doyo tidak hanya menampilkan keterampilan tangan para pengrajin, tetapi juga menyimpan makna dan ketekunan yang mendalam, menjadikannya warisan jiwa yang diturunkan secara turun-temurun. Daun doyo, yang menyerupai pandan namun memiliki serat yang kuat dan awet, diolah melalui proses panjang mulai dari pemanenan, pengambilan serat (nglorot), pengeringan, pemintalan, hingga pewarnaan yang dulunya menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuhan seperti buah dan kulit kayu.

Baca juga: Tradisi Laliiq Ugaal Warnai Suasana Kampung Tukul 2025

Kain yang juga dikenal sebagai Ulap Doyo ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia pada tahun 2013, memperkuat posisinya sebagai pusaka budaya yang harus dilestarikan. Motif-motifnya terinspirasi dari flora, fauna, dan mitologi Dayak Benuaq, seperti Naga (Aso) yang melambangkan kecantikan dan pelindung spiritual, atau motif Timang (Harimau) yang melambangkan keperkasaan. Dahulu, motif tertentu bahkan digunakan untuk menandakan strata sosial.

Tenun Doyo sangat cocok digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari busana adat, selendang, hingga suvenir modern. Pemanfaatan kain ini dalam produk-produk kreatif seperti tas, dompet, dan syal menunjukkan upaya pelestarian budaya yang sekaligus mendukung industri kreatif di Kutai Barat.

Baca juga: Warisan Leluhur Dayak Bahau Terjaga Lewat Pitoh Tradisional

Pemerintah daerah dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutai Barat (KuBar) aktif mempromosikan Tenun Doyo sebagai wujud Karya Anak Daerah dan bagian dari #IKMKutaiBarat. Upaya ini penting untuk memastikan warisan Dayak ini tetap lestari, mengingat tantangan keterbatasan bahan baku dan regenerasi penenun yang didominasi oleh perempuan berusia di atas 40 tahun. Dengan dukungan berkelanjutan, Tenun Doyo diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga semakin dikenal di kancah nasional bahkan internasional.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....