Dandim Kurangi Kemiskinan Lewat Program Makan Bergizi Gratis
- 30 Mei 2025 14:52 WIB
- Kaimana
KBRN, Kaimana: Komando Distrik Militer (Kodim) 1804/Kaimana tidak hanya bicara pertahanan negara, tetapi juga ikut menyasar jantung persoalan sosial masyarakat: kemiskinan, gizi buruk, dan ekonomi lesu.
Hal ini disampaikan langsung oleh Dandim 1804 Kaimana, Letkol Arm Debi Irawan, saat memaparkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pihaknya sebagai solusi konkrit lintas sektor.
Dalam pernyataannya kepada KBRN Kaimana, Letkol Debi menjelaskan bahwa program MBG tidak semata-mata soal makanan, tapi mengusung visi besar: memperbaiki masa depan generasi Papua dari dapur rakyat.
"Tujuan umumnya adalah meningkatkan asupan gizi dan pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya pola makan sehat dan seimbang," ujar Letkol Debi .
Namun lebih dalam dari itu, MBG mengincar empat bidang krusial: gizi, pendidikan, ekonomi, dan pengentasan kemiskinan.
Dalam aspek gizi, program ini ingin membentuk kebiasaan makan sehat dan terukur, dengan menyajikan menu berdasarkan standar Empat Sehat Lima Sempurna. Menurut Dandim, pola ini penting demi pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak-anak penerima manfaat.
"Jangan harap anak-anak bisa menyerap pelajaran dengan baik kalau asupan gizinya buruk. Gizi itu bukan pelengkap, tapi fondasi," tegasnya.
MBG juga menyasar aspek pendidikan dengan cara sederhana namun berdampak besar. Anak-anak yang sebelumnya enggan ke sekolah karena lapar, kini punya alasan untuk datang—ada makanan bergizi menanti.
"Asupan bergizi bikin anak lebih fokus dan semangat belajar. Ini cara halus tapi efektif untuk mendorong kehadiran dan semangat sekolah," terang Letkol Debi.
Salah satu keunikan MBG adalah penggunaan bahan pangan lokal seperti sayur, ikan, daging, dan bumbu dari pasar tradisional. Hal ini menciptakan efek domino: perputaran uang di pasar meningkat, pedagang kecil terbantu, dan petani punya pasar baru.
"Bayangkan, satu dapur MBG pekerjakan 47 orang. Kalau tiga dapur, itu sudah 141 orang. Belum lagi petani lokal yang hasilnya diserap untuk kebutuhan dapur," katanya.
Program ini juga diarahkan untuk menyentuh akar kemiskinan. Dengan menciptakan lapangan kerja baru, membuka akses pasar untuk hasil pertanian lokal, dan menumbuhkan semangat produksi di kalangan petani,
"Yang dulunya bertani cuma untuk makan, sekarang bisa jual. Bahkan pedagang ayam potong di Kaimana pun mulai bangkit karena permintaan meningkat," ujar Letkol Debi menutup wawancara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....