Program MBG di Kaimana Tuai Pro dan Kontra, Ini Penjelasan Pihak Dapur
- 13 Mei 2025 19:44 WIB
- Kaimana
KBRN, Kaimana: Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kaimana yang telah berlangsung sejak Februari 2025 tak lepas dari sorotan masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan beberapa aspek teknis dalam distribusi makanan, seperti rusaknya tekstur makanan, tidak lengkapnya menu karena ketiadaan buah atau susu, serta kebijakan pengembalian wadah makanan untuk digunakan kembali.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur 3 Air Tiba, Mohamad Akmal Rahman, memberikan klarifikasi mewakili seluruh dapur yang terlibat dalam program MBG di wilayah Kota Kaimana.
Menurutnya, pelaksanaan program ini telah mengikuti standar yang ditetapkan pemerintah, dengan pengawasan ketat oleh tim SPPG, ahli gizi, dan asisten lapangan.
“MBG di Kaimana diproses oleh tiga dapur, dan setiap hari kami melakukan kontrol ke masing-masing sekolah serta konfirmasi ke pengelola sekolah untuk mengevaluasi hal-hal yang masih kurang,” jelas Akmal.
Dapur 3 sendiri, lanjutnya, melayani 13 sekolah yang meliputi jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA, termasuk PAUD Anggrek, TK Tarsisius, TK Pertiwi, SD Negeri 3, SMP Yapis, dan SMA YPPK.
Terkait menu yang dinilai tidak lengkap, Akmal menjelaskan bahwa hal tersebut bisa terjadi karena dua hal: faktor teknis seperti kelalaian memasukkan makanan ke kotak, atau penyesuaian dengan kebutuhan gizi harian siswa.
"Tidak setiap hari harus ada susu atau buah. Jika kandungan gizi pada menu hari itu kurang, baru kita tambahkan susu. Lauk utama kami variasikan antara ayam, telur, dan ikan tuna, dilengkapi dengan sayur seperti buncis dan wortel," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan wadah plastik mika saat ini bersifat sementara sambil menunggu kedatangan ompreng berbahan stainless steel.
“Mika ini bisa digunakan hingga lima kali, setelah itu diganti. Wadah dikembalikan ke dapur untuk dicuci dan disterilkan,” ujarnya.
Mengenai keluhan makanan basi, Akmal menyebut hal itu kemungkinan disebabkan keterlambatan waktu konsumsi di sekolah.
“Kami mengantar makanan di pagi hari. Tapi setiap menu kami simpan sampel untuk menguji daya tahan makanan. Umumnya, makanan bisa bertahan hingga malam hari,” katanya.
Sebagai bagian dari edukasi kebersihan dan kebiasaan sehat, pihak MBG juga mewajibkan siswa membawa sendok dan tumbler dari rumah. “Untuk sendok dan air minum, kita arahkan siswa membawa sendiri, ini juga bagian dari pembiasaan hidup sehat,” tambahnya.
Menutup keterangannya, Akmal menegaskan komitmen pihak dapur MBG untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan layanan demi kelancaran program yang bertujuan meningkatkan gizi siswa di Kabupaten Kaimana ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....