Asal Mula Matcha: Dari Tradisi Zen hingga Fenomena Global
- 06 Agt 2026 13:48 WIB
- Kaimana
Poin Utama
- Matcha yang populer saat ini dikaitkan dengan Jepang, tetapi sejarahnya sebenarnya berasal dari Tiongkok pada Dinasti Tang (618–907 M).
- Pada Dinasti Tang, daun teh dikukus dan dipadatkan menjadi bentuk balok atau bata untuk memudahkan penyimpanan dan distribusi, kemudian diseduh dengan air panas dan tambahan garam atau rempah.
- Tradisi bubuk teh hijau berkembang pesat pada Dinasti Song (960–1279 M) ketika para biksu Buddha Zen mulai menyeduh bubuk teh dengan cara dikocok menggunakan kuas bambu hingga berbusa.
RRI.CO.ID, Kaimana - Matcha, bubuk teh hijau asal Jepang yang kini mendunia, memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan erat kaitannya dengan kebudayaan spiritual Tiongkok. Meskipun saat ini identik dengan Jepang, tradisi mengonsumsi teh dalam bentuk bubuk sebenarnya bermula di Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618–907 M). Dirangkum dari berbagai sumber salah satunya dari situs Matcha.com beruikut asal mula matcha.
Pada era tersebut, daun teh dikukus dan dipadatkan menjadi bentuk balok atau bata agar mudah disimpan dan didistribusikan. Untuk menikmatinya, balok teh dipanggang, ditumbuk menjadi bubuk halus, lalu diseduh dengan air panas bersama tambahan garam atau rempah lainnya. Praktik ini kemudian berkembang pesat pada masa Dinasti Song (960–1279 M), di mana para biksu Buddha Zen mulai menyeduh bubuk teh hijau dengan cara dikocok menggunakan kuas bambu hingga berbusa.
Masuknya Teh ke Jepang
Tradisi teh bubuk Tiongkok dibawa ke Jepang oleh seorang biksu Buddha bernama Myoan Eisai pada akhir abad ke-12 (tahun 1191). Eisai membawa biji teh serta metode pengolahan teh bubuk Zen sekembalinya dari Tiongkok.
Ia menanam biji teh tersebut di halaman kuilnya di Kyoto, serta membagikannya ke beberapa wilayah lain. Eisai menemukan bahwa minum teh bubuk sangat membantu para biksu untuk tetap terjaga dan fokus selama bermeditasi berjam-jam. Dari sinilah teh bubuk mulai diadopsi oleh kalangan spiritual dan elit bangsawan Jepang.
Transformasi Menjadi Upacara Minum Teh (Chanoyu)
Seiring berjalannya waktu, metode pengolahan teh di Tiongkok berubah, di mana mereka beralih ke teh seduh daun utuh (looseteaf). Namun, Jepang justru melestarikan dan menyempurnakan tradisi teh bubuk tersebut.
Pada abad ke-16, seorang maestro teh bernama Sen no Rikyu menyempurnakan filosofi dan tata cara penyajian teh menjadi sebuah ritual sakral yang dikenal sebagai Chanoyu atau Way of Tea. Ia menekankan kesederhanaan, keharmonisan, rasa hormat, dan ketenangan batin dalam setiap proses penyajian matcha.
Inovasi Pertanian yang Unik
Salah satu kunci keunikan matcha terletak pada teknik budidayanya yang disempurnakan pada periode Edo. Beberapa minggu sebelum panen, perkebunan teh ditandai dengan tudung peneduh untuk menghalangi sinar matahari langsung.
Teknik ini memaksa tanaman teh (Camellia sinensis) memproduksi klorofil dan asam amino yang lebih tinggi, menghasilkan warna hijau cerah yang pekat serta rasa umami yang khas. Daun teh pilihan ini kemudian dikukus, dikeringkan, dan digiling secara perlahan menggunakan batu gilingan tradisional hingga menjadi bubuk yang sangat halus.
Kini, matcha telah bertransformasi dari minuman ritual para biksu dan samurai menjadi tren kuliner global yang dinikmati dalam berbagai bentuk, mulai dari latte, es krim, hingga kue kering modern.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....