Dampak Tersembunyi di Balik Kebiasaan Melewatkan Makan Pagi

  • 26 Mar 2026 08:43 WIB
  •  Kaimana

RRI.CO.ID,Kaimana : Bagi banyak orang yang memiliki mobilitas tinggi, sarapan sering kali dianggap sebagai beban waktu tapi secangkir kopi sering kali menjadi pelarian praktis untuk memulai hari. Padahal, sarapan adalah fondasi metabolisme tubuh. Melewatkan makan pagi bukan hanya soal perut yang keroncongan di siang hari, tetapi juga tentang investasi kesehatan jangka panjang yang terabaikan. Dirangkum dari berbagai sumber salah satunya dari situs halodoc.com berikut dampak negatif atau resiko kesehatan jika melewatkan sarapan.

Berikut adalah beberapa risiko kesehatan serius yang mengintai jika kebiasaan melewatkan sarapan terus dibiarkan:

1. Penurunan Fungsi Kognitif dan Fokus

Otak membutuhkan glukosa sebagai bahan bakar utama untuk bekerja. Setelah berpuasa selama tidur malam, cadangan energi tubuh berada pada titik terendah. Tanpa asupan nutrisi di pagi hari, kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan kecepatan berpikir akan menurun drastis. Hal ini tentu menghambat produktivitas, baik bagi pekerja profesional maupun pelajar.

2. Gangguan Metabolisme dan Berat Badan

Ada anggapan keliru bahwa melewatkan sarapan dapat membantu menurunkan berat badan. Faktanya, kondisi ini justru memicu lonjakan hormon rasa lapar (ghrelin) yang tidak terkendali. Akibatnya, seseorang cenderung melakukan "balas dendam" dengan makan berlebihan atau mengonsumsi camilan tinggi gula di siang dan malam hari, yang justru memicu obesitas.

3. Risiko Penyakit Jantung dan Diabetes

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang jarang sarapan memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi dan penyumbatan pembuluh darah. Selain itu, kebiasaan ini dapat mengganggu sensitivitas insulin. Tanpa sarapan yang bergizi, kadar gula darah menjadi tidak stabil, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko terkena Diabetes Melitus tipe 2.

4. Gangguan Pencernaan

Melewatkan sarapan membuat lambung berada dalam kondisi kosong terlalu lama sementara asam lambung tetap diproduksi. Hal ini sering memicu munculnya gejala maag atau gastritis. Perut yang kosong juga mengganggu ritme kerja usus dalam mengolah sisa makanan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....