Self-Diagnosis, Upaya Mendiagnosis Diri Sendiri yang Berbahaya
- 30 Jun 2025 13:40 WIB
- Kaimana
KBRN, Kaimana: Melansir dari Hello Sehat.com tentang Self-diagnosis yang adalah sebuah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri, misalnya dari internet atau pengalaman sakit teman dan keluarga di masa lalu.
Diagnosis sebenarnya hanya boleh ditetapkan oleh tenaga medis profesional. Pasalnya, proses menuju diagnosis yang tepat sangatlah sulit. Dokter akan menetapkan diagnosis setelah melakukan pemeriksaan. Diagnosis ditentukan berdasarkan gejala, keluhan, riwayat kesehatan, dan faktor lain yang Anda alami.
Saat mendiagnosis diri sendiri, Anda menyimpulkan suatu gangguan kesehatan fisik maupun psikologis dengan berbekal informasi yang Anda miliki.
Padahal, tenaga medis profesional saja perlu mengulik seluk-beluk suatu masalah kesehatan sebelum menetapkan diagnosis Anda. Anda bahkan mungkin perlu menjalani pemeriksaan lanjutan karena dugaan terhadap suatu penyakit tidak bisa disimpulkan begitu saja.
Selain lingkungan sekitar, kemajuan teknologi informasi juga turut andil dalam fenomena self-diagnosis. Banyaknya sumber informasi kesehatan yang beredar membuat beberapa orang memilih mencari penyebab keluhannya di internet.
Sayangnya, sumber yang dijadikan rujukan terkadang bukanlah sumber kredibel yang telah diamini oleh dokter dan pakar. Bahkan, penelitian dari California Health Care Foundation pada 2013 menemukan bahwa di antara orang-orang yang mencari informasi terkait kondisi kesehatan mereka, hanya setengahnya yang benar-benar berkonsultasi dengan dokter.
Bahaya self-diagnosis
Terdapat beberapa bahaya nyata yang dapat timbul terkait perilaku mendiagnosis diri sendiri alias self-diagnosis. Berikut beberapa di antaranya.
1. Diagnosis yang salah
Beberapa gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental, dapat memiliki gejala yang serupa. Salah satu contohnya yaitu batuk.
Batuk dapat menjadi tanda dari beragam masalah kesehatan, mulai dari flu hingga gangguan pernapasan. Bahkan, ada juga yang mengalami batuk akibat asam lambung naik.
Ketika mengira-ngira apa yang terjadi pada diri Anda, bisa jadi perkiraan tersebut meleset dari yang sebenarnya. Akibatnya, Anda tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.
2. Masalah yang lebih serius tidak terdeteksi
Gejala psikologis yang Anda alami bisa jadi merupakan dampak dari masalah kesehatan fisik.
Misalnya, apa yang Anda kira sebagai serangan panik mungkin diakibatkan oleh detak jantung tidak beraturan atau masalah pada kelenjar tiroid.
Pada contoh kasus lainnya, tumor otak dapat memengaruhi bagian otak yang mengatur emosi dan kepribadian orang yang mengidapnya.
Orang yang melakukan self-diagnosis mungkin mengira dirinya sedang mengalami gangguan kepribadian, padahal ada tumor berbahaya yang bersarang dalam otaknya.
3. Salah minum obat
Jika Anda menetapkan diagnosis yang keliru, kemungkinan pengobatannya juga akan salah.
Risiko terhadap kesehatan pun bertambah besar bila Anda mengonsumsi obat secara asal atau menjalani metode pengobatan yang tidak disarankan secara medis.
Sekalipun ada obat yang tidak berbahaya, minum obat secara keliru tidak akan menyembuhkan keluhan yang Anda alami.
Sebagai gambaran, obat antidepresan tidak akan mampu mengatasi gejala depresi bila penyebab yang mendasarinya berasal dari tumor pada otak.
4. Memicu masalah yang lebih parah
Self-diagnosis terkadang menyebabkan masalah kesehatan yang sebenarnya tidak Anda alami. Sebagai contoh, saat ini Anda mengalami insomnia yang sebenarnya disebabkan konsumsi kafein berlebihan.
Akan tetapi, semua informasi yang Anda terima dari sekitar menyatakan bahwa gangguan tidur ini menandakan gangguan mental, seperti depresi.
Apabila Anda terus-menerus merasa khawatir, Anda malah makin berisiko mengalami depresi yang tadinya tidak terjadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....