Sepuluh Puskesmas Ikuti Pelatihan Surveilans dan Pengendalian Vektor

  • 05 Okt 2026 13:37 WIB
  •  Kaimana

RRI.CO.ID, Kaimana – Dinas Kesehatan Kabupaten Kaimana memperkuat upaya pengendalian malaria dengan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan surveilans dan pengendalian vektor binatang pembawa penyakit bagi tenaga entomolog yang berlangsung di Hotel Grand Papua Kaimana, Senin, 5 Oktober 2026.

Pelatihan yang dijadwalkan selama lima hari, 5–10 Oktober 2026, dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kaimana, Jubair Rumakat, SKM., MM.,

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Seksi P2M Dinas Kesehatan Kaimana, Hotbel Marbun, serta Quality Control BPK Makassar, Armitha Muchtar, SKM., M.Kes. Peserta merupakan perwakilan dari 10 puskesmas yang tersebar di wilayah Kabupaten Kaimana.

Dalam sambutannya, Jubair mengatakan malaria masih menjadi perhatian di Kabupaten Kaimana. Berdasarkan laporan dari puskesmas, tercatat 336 kasus positif malaria dengan angka API sebesar 4,27, yang menempatkan Kaimana pada kategori level sedang.

Ia menjelaskan, Annual Parasite Incidence (API) merupakan indikator yang digunakan untuk melihat jumlah kasus malaria positif dibandingkan jumlah penduduk dalam suatu wilayah, kemudian dikalikan 1.000.

“Kita saat ini masih berada di level sedang. API kita 4,27 dari 336 kasus positif berdasarkan laporan puskesmas,” ujar Jubair.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian karena pemerintah menargetkan eliminasi malaria pada 2030. Untuk mencapai target itu, berbagai tahapan harus dipersiapkan sejak sekarang, terutama penguatan sumber daya manusia serta upaya menekan jumlah kasus.

“Di tahun 2030 kita harus mengeliminasi malaria. Karena itu, tahapan-tahapan ini harus kita ikuti. Kita harus menyiapkan SDM dan menekan jumlah kasus,” tegasnya.

Jubair mengakui upaya pengendalian malaria di sejumlah wilayah masih menghadapi kendala. Beberapa puskesmas, kata dia, masih kekurangan tenaga pengelola laboratorium dan menghadapi keterbatasan ketersediaan mikroskopis.

Kondisi tersebut dinilai dapat menghambat proses diagnosis malaria, padahal kecepatan menemukan dan memastikan kasus menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit tersebut.

Karena itu, ia berharap seluruh peserta mengikuti setiap materi pelatihan dengan serius selama lima hari. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan di masing-masing puskesmas untuk memperkuat surveilans dan pengendalian vektor.

“Saya berharap peserta mengikuti materi dengan baik selama lima hari kegiatan, karena ini sangat penting agar kita bisa melakukan penanganan terkait kasus malaria,” katanya.

Ia berharap penguatan kapasitas tenaga entomolog di 10 puskesmas dapat meningkatkan kemampuan deteksi dan pengendalian malaria di lapangan, sekaligus menjadi bagian dari langkah konkret menuju target eliminasi malaria Kabupaten Kaimana pada 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....