Jarak Pandang Turun, Bandara Utarom Kaimana Perketat Pemantauan

  • 02 Okt 2026 11:31 WIB
  •  Kaimana

RRI.CO.ID, Kaimana , – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai memasuki kawasan Bandar Udara (Bandara) Utarom Kaimana, Papua Barat. Kondisi tersebut membuat pengelola bandara meningkatkan pemantauan terhadap jarak pandang guna memastikan keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Utarom Kaimana, Juprianto Pali, mengatakan kabut asap kini mulai terlihat di sekitar kawasan bandara. Petugas terus memantau perkembangan kondisi udara dan jarak pandang sebagai bagian dari prosedur keselamatan penerbangan.

“Kondisi sekarang kabut asap sudah masuk di sekitar bandar udara. Tentunya kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi tersebut,” ujar Juprianto saat dikonfirmasi, Kamis 1 Oktober 2026.

Menurutnya, aktivitas penerbangan di Bandara Utarom Kaimana masih berjalan. Namun, operasional akan terus disesuaikan dengan kondisi cuaca, terutama apabila kabut asap menyebabkan jarak pandang semakin menurun.

“Sementara masih berjalan, tetapi kami akan menyesuaikan apabila jarak pandang semakin menurun. Operasional penerbangan dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan,” jelasnya.

Juprianto menyebut jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam menjamin keselamatan penerbangan. Berdasarkan pemantauan pada Kamis, jarak pandang di sekitar Bandara Utarom Kaimana berada di kisaran 3 kilometer, jauh di bawah kondisi ideal yang disebutnya berada pada sekitar 10 kilometer.

“Untuk jaminan keselamatan, jarak pandang harus 10 kilometer. Untuk hari ini jarak pandang sekitar 3 kilometer,” katanya.

Meski mengalami penurunan jarak pandang, UPBU Utarom Kaimana memastikan pemantauan tetap dilakukan secara berkala. Setiap perkembangan kondisi kabut asap menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah operasional penerbangan.

Juprianto juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, khususnya untuk membuka area perkebunan. Asap yang dihasilkan Karhutla tidak hanya berdampak terhadap kualitas udara, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi udara.

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membakar hutan dan lahan untuk perkebunan. Jika asap semakin pekat, tentu dapat memengaruhi kondisi penerbangan,” ujarnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....