Imam Jazuli : Kasepuhan atau Kabuyutan Patirana

  • 28 Feb 2026 19:41 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID,Jember - Imam Jazuli, seorang Digital Creator, Pelaku Seni dan Pemerhati Budaya Jember yang saat ini juga aktif di Balai RW Institute, menulis tentang Kasepuhan Atau Kabuyutan Patirana (Bujhu Pati Lashima).

Satu Materi yang layak untuk dicatat dari Lereng Selatan Hyang, di sebuah Dusun bernama Patirana, Desa Grujugan, Wonosari, Bondowoso. Terdapat sebuah situs Pemujaan berupa formasi batuan (andesit) persegi tersusun melingkar yang ditengahnya terdapat semacam menhir (lingga?) ditutup dengan kain kafan. Masyarakat sekitar menstanakannya dengan "Pelinggihan" Damarwulan dimana setiap tahun warga mengadakan acara nyadran, ngdhori atau ritual gugur gunung di pelinggihan tersebut.

Di situs ini juga terdapat sebuah arca batu dengan posisi duduk (mirip dwarapala) unfinish yang sangat aus dikelilingi oleh pemakaman umum yg batu nisannya merupakan batuan berbentuk menhir. Masyarakat sekitar juga menstanakan arca tersebut sebagai perwujudan Bujhu' Patih Lashima dimana setiap Jumat legi warga mengadakan ritual selamatan di lokasi ini juga.

Menurut kisah tutur Juru Kunci situs Patiraa, di lokasi ini juga terdapat sebuah prasasti berangka tahun 1378 Saka atau 1456 Masehi dimana pada tahun tersebut seorang tokoh bernama Patih Rana (Jayengrana) beristirahat di tempat ini. Sehingga nama sang tokoh tersebut dijadikan sebuah dusun (Kasepuhan) Patirana sedangkan Bujhu' Patih Lashima adalah generasi ke dua dari Patih Jayeg Rana.

Sementara dalam sebuah peta tahun 1889 (Oudheidkundige Kaart van Oost Java toot Aa de vorstenlanden) serta laporan catatan Hindia Belanda Rapporten van de Commisise in Nederlandsch Indie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java En Madoera 1904, di Patirana (sebuah lahan) milik sekertaris desa ditemukan sebuah inskripsi bertarikh 1378 saka (1458 M ) yg terpahat pada bagian arca yang sudah aus.

Situs Patirana di dusun Patirana, Desa Grujugan, Wonosari, Bondowoso (Foto:dok.Imaji)

Ritual di Kasepuhan Patirana ini mengingatkan pada beberapa ritual lain yang masih satu entitas di lereng selatan Hyang serta lereng utara Raung diantaranya:

1. Ritual Sandurellang di lereng selatan Hyang, dusun Mojan, Klungkung Sukorambi Jember dilakukan di area situs 6Bujuk yang terdapat sebuah lingga yg memiliki inskripsi tahun 1230 saka (1308 M / Masa awal Majapahit).

2. Ritual Pojihien di lereng Raung desa Cerme Bondowoso Juga lokasinya memiliki situs Goa Buto yang memilik inskripsi tahun 1316 saka (1394 M / masa pertengahan Majapahit) yang diidentifikasi sebagai situs Kabuddhan (Kasogatan).

3. Ritual Pojhien Hoddo, di Utara Raunh desa Bantal, Asembagus, Situbondo, juga sebuah lokasi yg memiliki jejak arkeologis berupa situs Daleman dan Prasasti Widarapasar dengan inskripsi tahun 1377 saka (1455 M / menjelang masa akhir Majapahit)

4. Hal ini pun mengingatkan pada sebuah peristiwa ritual Mamegat Sigi pada masa Majapahit yang di catat dalam naskah Desawarnana/Negarakertagama yg dilakukan oleh Raja Hayam Wuruk saat melakukan perjalanan di wilayah Tapal Kuda, tepatnya di sebuah desa perdikan (sima) kasogata berama Kalayu, Lereng utara Hyang (di sekitar Candi Jabung) Probolinggo. Sebuah rprasiddha atau ritual yang menandai berakhirnya upacara suci (menghormati leluhur) dalam konteks pencapaian kesempurnan / dharma tertinggi. Biasanya di iiringi para pendeta dengan pemotongan benang lungsin sebagai tanda peresmian atau tahap akhir dari penetapan sebuah daerah dharmapas (otonom). Ritual ini dilakukan sebagai bagian dari upacara keagamaan yang megah dan khusyuk, dimana persembahan (widhi-widhana) dan sajian makanan/kain (upabhoga-bhojana) telah disiapkan secara lengkap dan sempurna

Terdapat satu kesimpulan bahwa ke empat ritual (Patirana, Mojan Klungkung, Cereme dan Bantal) memiliki kesamaan yaitu, keempat lokasi ritual tersebut memiliki Jejak Arkeologis dan Sumber data Primer (Inskripsi/ Prasasti bertarikh) yg memiliki hubungan pararel dan memori kolektif yang sama.

Meskipun kisah sejarah dan ritual dari ke empat lokasi memiliki kisah legenda yg secara kronologi waktu tumpang tindih dengan inskripsi yg tertera pada artefak dil lokasi, seperti misal di Patirana (1378 M) terbangun tokoh Damarwulan yang merupakan tokoh dari kisah serat Damarwulan yg terkait dengan naskah Babad Tanah Jawa (sastra Jawa Baru Masa Mataram Islam) yg berkembang pada abad 18 M) dan dikombinasikan dengan kemunculan tokoh Jayengrana yang notabene nama dinasti yang berkuasa atas Surabaya pada th 1672 - 1772 M, pun demikian dengan Sandurrellang yg situsnya memiliki tarikh 1308 M, dan wilayah ini juga berkembang kisah legenda Patih LohGendiir (seorang patih pada masa akhir Majapahit dalam cerita Damarwulan dan Blambangan, tidak berarti hal itu menjadi kontradiksi antara keberadaan situs dan ritusnya.

Justru itu adalah sebuah kekayaanl nilai budaya. Literasi dan pengetahuan lokal yg saling melengkapi antara tradisi lisan dan tulisan yg jusru memberikan kontribusi tak ternilai bagi sejarah, budaya dan kemanusiaan. S emakin memepertegas bahwa membaca sejarah tak hanya dari sudut sains, kronologi dan tekstual, tapi juga perlu pendekatan sense, aspek filsofs, semiotik dan diadiktik, seperangkat nilai- nilai budaya yg berhubungan erat dengan local wisdom, sistem poetika, sistem moralitas sejarah lokal atau pembentuk sejarah bangsa.

Rekomendasi Berita