Dari Endemis ke Eliminasi, Jalan Panjang Jember Melawan Kusta

  • 01 Mar 2026 17:24 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Bercak-bercak kemerahan itu pertama kali muncul di tangan dan wajah Achmad Doni (42) pada Juli 2023. Tidak terasa gatal, tidak perih, hanya seperti biduran biasa.

Ia sempat berdiri lebih lama di depan cermin, menekan pelan kulit yang berubah warna, memastikan tidak ada rasa nyeri. Karena tidak ada gangguan berarti, Doni memilih menganggapnya sepele.

Tiga bulan sebelum bercak itu muncul, Doni baru saja pulang dari Jakarta. Ia mengikuti kontes teknisi selama tiga hari dan menjalani seluruh rangkaian kegiatan tanpa gangguan ada kesehatan.

Itu sebabnya, ketika bercak kemerahan muncul, ia tidak langsung cemas. Ia menganggapnya sebagai alergi ringan, yang terjadi karena makanan atau kurang istirahat.

“Saya sempat beli obat salep di apotek dan mengoleskannya sebelum tidur. Saya pikir pasti besoknya mendingan lah, karena benar-benar kayak biduran gitu bentuknya,” kata Doni, kepada RRI, Minggu (1/3/2026).

Namun setiap bangun, bercak itu masih ada, bahkan tampak lebih jelas saat terkena cahaya. Ia pun akhirnya memeriksakan diri ke klinik setempat.

“Diagnosa alergi, katanya. Dikasih obat, tapi tidak ada perubahan. Akhirnya saya balik lagi. Pokoknya saya kontrol sampai tiga kali dan itu tetap diagnosanya sama,” ujarnya.

Penjelasan itu sempat menenangkannya, meski diam-diam ia masih bertanya-tanya mengapa bercak itu tak kunjung hilang.

“Karena tidak sembuh-sembuh, akhirnya saya biarkan sampai November. Saya juga coba pengobatan herbal seperti minum air kelapa muda, tapi tidak ada perubahan,” kata dia.

Selama empat bulan, bercak itu hanya mengganggu penampilannya. Tidak gatal, tidak nyeri. Namun, semakin lama semakin terlihat jelas, terutama di wajah, leher belakang, hingga bawah telinga.

Bercak juga muncul di tangan bagian bawah siku, paha, dan betis. Barulah ketika Doni kembali lagi ke klinik, ia bertemu dokter yang berbeda dan arah diagnosisnya berubah.

Setelah mendengar kronologinya, dokter langsung merujuknya ke spesialis kulit. Dari pemeriksaan awal, dokter sudah mencurigai kusta dari kondisi kulit dan area sekitar mata.

Tes laboratorium pertama menunjukkan hasil negatif. Namun dokter belum sepenuhnya yakin. Pengambilan sampel ulang dilakukan pada bagian kulit yang bercak. Hasilnya pun positif kusta.

“Yang paling kaget itu istri. Karena takut penyakit ini mudah menular. Kami khawatir bisa menular ke anak-anak. Di situ saya merasa down sekali,” kata Doni.

Ia sendiri tak kalah cemas. Bukan hanya soal penyakitnya, tetapi juga memikirkan reaksi lingkungan dan tempat kerja.

Ketika Edukasi Mengalahkan Stigma

Sejak awal munculnya bercak, ada rasa malu yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Setiap bertemu tetangga atau keluarga, ia merasa seolah semua mata tertuju pada kulitnya.

Di masyarakat, kusta masih sering dipandang sebagai penyakit yang menakutkan, dikaitkan dengan kutukan, dianggap aib, dan diyakini menular hanya karena bersentuhan.

Kekhawatiran itu membuatnya cemas akan dijauhi. Namun kenyataan yang ia hadapi tak sepenuhnya seperti yang ia bayangkan.

Alih-alih menutup diri, Doni justru memilih bersikap terbuka. Ia mendatangi Ketua RT untuk menjelaskan kondisinya, lalu menghubungi petugas kesehatan.

Dari sana, ia diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan di Puskesmas Kaliwates. Di ruang periksa itulah ketakutannya perlahan diluruskan.

Ia mendapat penjelasan yang jauh lebih utuh. Kusta memang penyakit menular, tetapi penularannya tidak semudah yang sering dibayangkan orang.

Petugas menjelaskan, penularan biasanya terjadi melalui kontak erat dan berlangsung lama, terutama dalam satu rumah dengan sirkulasi udara yang kurang baik.

Penyakit ini pun bisa disembuhkan dengan terapi antibiotik yang sudah menjadi standar pengobatan di banyak negara. Obatnya tersedia gratis dan dapat diakses di fasilitas kesehatan.

Penjelasan itu membuat Doni bernapas sedikit lebih lega. Bahkan, petugas puskesmas juga melakukan penyuluhan kepada warga sekitar dan ke kantor tempat Doni bekerja.

Kontak erat diberikan kemoprofilaksis dosis tunggal untuk menurunkan risiko penularan hingga dua tahun. “Setelah ada penyuluhan, lingkungan mendukung. Saya perlahan kembali aktif bersosialisasi,” ujarnya.

Penyuluhan itu menjadi titik balik baginya. Ketakutan yang semula membayangi, kemudian berubah menjadi bentuk dukungan.

Pengobatan dimulai akhir November 2023. Setiap bulan, Doni kontrol dan mengambil obat di puskesmas. Terapi dijalani selama satu tahun penuh dan selesai pada Desember 2024.

Enam bulan pertama menjadi masa yang paling berat. Ia merasa mudah lelah. Kondisi itu membuatnya mengajukan penundaan mutasi kerja agar bisa fokus menjalani pengobatan.

Permohonan itu pun disetujui. “Alhamdulillah, kantor mendukung saya. Petugas Puskemas juga membantu dan mendampingi saya untuk komunikasi dengan kantor,” ujarnya.

Pengalaman Doni ini menunjukkan bahwa stigma dapat dikurangi melalui edukasi yang tepat. Penyuluhan kepada warga dan tempat kerja mampu mencegah diskriminasi.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penguat terbesar selama masa pengobatan. Istrinya mendampingi dan memastikan ia tetap rutin kontrol serta menjaga kondisi tubuh.

“Kusta bukan penyakit kutukan, ada obatnya dan bisa sembuh. Yang penting rutin kontrol, cukup istirahat, makan bergizi, dan menjaga kebersihan,” ujarnya.

Secara medis, kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Untuk tipe PB (pausibasiler), pasien akan menjalani enam dosis selama enam hingga delapan bulan.

Sementara tipe MB (multibasiler) membutuhkan 12 dosis atau sekitar satu hingga satu setengah tahun pengobatan. Hal itu disampaikan Penanggung Jawab Program Kusta di Puskesmas Kaliwates, Ludfi Daris.

“Umumnya setelah tiga kali pengobatan, sekitar 90 persen kuman sudah tidak aktif. Tapi pengobatan tetap harus diselesaikan sampai 12 dosis agar optimal,” ujar Ludfi, yang juga mendampingi pengobatan Doni.

Setelah menyelesaikan seluruh regimen, pasien dinyatakan release from treatment atau selesai pengobatan.

Penanggung Jawab Program Kusta di Puskesmas Kaliwates, Ludfi Daris bersama timnya saat melakukan penyuluhan kusta. Foto: Puskesmas Kaliwates

Sejak awal 2000-an, Ludfi sudah bergelut dengan penanganan kusta. Ia mengenal betul dinamika kasus di wilayah kerjanya, yang meliputi Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, dan Kebon Agung, dengan total penduduk sekitar 52–53 ribu jiwa.

Dalam setahun, rata-rata ditemukan tiga hingga empat kasus baru. Angka itu, menurutnya, masih dalam batas wajar sesuai incident rate dan bukan termasuk daerah kantong kusta.

“Kasusnya fluktuatif. Kadang satu atau dua, kadang sampai lima kasus. Saat ini ada empat kasus aktif,” ujarnya.

Namun angka yang kecil bukan berarti persoalan selesai. Tantangan justru ada pada kapan kasus itu ditemukan.

“Kusta ini unik karena tidak membunuh. Gejala awalnya hanya bercak di kulit dan keluhannya ringan. Banyak pasien merasa malu dan menyembunyikan gejalanya,” kata Ludfi.

Pasien kerap datang ketika bercak tidak sembuh-sembuh lebih dari satu tahun. Akibatnya, banyak yang sudah masuk kategori tipe MB, yakni tipe dengan jumlah kelainan kulit lebih dari lima titik dan risiko komplikasi lebih tinggi.

Menurutnya, keterlambatan pemeriksaan bukan semata soal akses layanan, melainkan pengetahuan dan persepsi.

“Biasanya karena kurangnya pemahaman kusta atau masih ada ketakutan stigma kusta adalah kutukan. Karena penyakit ini tidak langsung membahayakan nyawa, ada kecenderungan untuk menunda,” jelasnya.

Berbeda dengan dekade awal 2000-an, ketika pasien cenderung pasif dan menunggu petugas datang membawakan obat, saat ini tingkat kooperatif pasien justru meningkat.

Edukasi yang semakin gencar membuat lebih banyak pasien menyadari pentingnya memeriksakan diri dan menjalani kontrol rutin. Namun kenyataannya, tidak semua datang dalam kondisi dini.

Sebagian pasien masih ditemukan ketika sudah mengalami gangguan mati rasa pada tangan dan kaki, tanda bahwa saraf mulai terdampak. Kondisi ini termasuk kecacatan tingkat satu.

“Kalau kelainan terdeteksi kurang dari enam bulan, risiko kecacatan bisa dicegah dengan pengobatan tambahan,” kata Ludfi.

Berbeda dengan ketakutan yang sempat dirasakan Doni, Ludfi menyebut reaksi masyarakat saat ini jauh lebih tenang dibanding masa lalu.

“Nampaknya sekarang masyarakat tidak seheboh dulu. Kalau ada kasus, kami langsung edukasi keluarga dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Kontak erat pasien akan diberikan kemoprofilaksis, yaitu obat pencegahan dosis tunggal yang efektif menurunkan risiko penularan hingga dua tahun.

Pendekatan ini terbukti mampu meredam kekhawatiran. Selama lebih dari 25 tahun mendampingi pasien, Ludfi mengaku belum pernah menemukan kasus pasien yang sampai dikucilkan secara ekstrem.

“Kusta memang menular, tetapi tidak mudah menular. Bahkan anggota keluarga terdekat belum tentu tertular,” tegasnya.

Penjelasan ini penting, kata Ludfi, sebab salah kaprah tentang tingkat penularan sering kali menjadi sumber diskriminasi.

Jember dan Tantangan Kesadaran Publik

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jember, dr. Rita Wahyuningsih, mengatakan Jember sempat masuk dalam daftar daerah dengan angka penemuan kasus kusta yang cukup tinggi di Jawa Timur.

Beberapa tahun lalu, wilayah seperti Jenggawah, Sumberbaru, dan Bangsalsari mencatat angka penemuan tinggi. Faktor lingkungan turut berperan.

“Kuman penyebab kusta, Mycobacterium leprae, masih satu rumpun dengan bakteri TB. Lingkungan lembap, ventilasi kurang baik, dan sanitasi tidak optimal, mendukung kelangsungan hidupnya,” kata dia.

Berbeda dengan TB yang cepat menular melalui droplet, kusta memiliki masa inkubasi yang panjang. Seseorang bisa tertular hari ini, tetapi gejala muncul bertahun-tahun kemudian.

Inilah yang membuat masyarakat kerap abai. “Gejala awalnya mirip panu. Warna kulit memudar dan tidak gatal. Karena dianggap sepele, pasien baru datang saat sudah ada keluhan saraf,” ujar Rita.

Namun lima tahun terakhir menunjukkan tren membaik. Pada 2024, sekitar dua ribuan orang terjaring sebagai suspek kusta. Tahun 2025 meningkat menjadi sekitar tiga ribuan.

Peningkatan ini bukan berarti kasus melonjak, melainkan upaya penemuan dini yang makin gencar. Kasus positif pada anak turun dari 16 kasus pada 2024, menjadi 4 kasus pada 2025. Angka kecacatan juga menurun dari 32 menjadi 10 kasus.

“Ini menunjukkan deteksi dini mulai efektif, karena kasus ditemukan sebelum terjadi kecacatan,” katanya.

UPT Puskesmas Sukorambi bersama muspika setempat melakukan kunjungan dalam upaya penanganan kusta di Jember. Foto: PPID Pemkab Jember

Secara indikator nasional, Jember juga telah mendapatkan sertifikat eliminasi kusta sejak 2018, dengan angka kejadian kurang dari 1 per 10.000 penduduk.

Tantangannya kini adalah mempertahankan status tersebut. Rita mengatakan bahwa program eliminasi kusta di Kabupaten Jember berjalan dalam tiga tahapan.

Pertama, skirining atau penemuan dini. Pemeriksaan kusta kini masuk dalam program pemerintah yaitu pemeriksaan kesehatan gratis, termasuk skrining pada anak sekolah.

“Investigasi kontak rumah juga dilakukan. jika ada satu kasus positif, seluruh anggota keluarga diperiksa,” tambahnya.

Kedua, tata laksana pengobatan. Pasien menjalani terapi kombinasi antibiotik selama enam bulan untuk tipe PB dan 12 bulan untuk tipe MB. Semua obat disediakan gratis dan tidak dijual bebas.

Selama pengobatan, pasien dipantau setiap bulan untuk mengawasi kemungkinan efek samping. Sehingga mereka diwajibkan kontrol rutin ke puskesmas agar kepatuhan tetap terjaga.

“Jika akses jauh, bisa melalui pustu, kunjungan rumah, atau dibantu kader sebagai PMO (Pengawas Minum Obat). Semua pengobatannya gratis,” kata dia.

Ketiga, pencegahan penularan. Selain edukasi kebersihan diri dan lingkungan, kontak erat akan diberikan kemoprofilaksis dosis tunggal untuk menurunkan risiko penularan.

Meski angka kusta di Jember menurun, tantangan belum sepenuhnya hilang. Rita mengatakan, bahwa stigma dan diskriminasi masih muncul, terutama di wilayah non-endemis.

“Masih ada yang menganggap kusta itu penyakit menakutkan, terutama di daerah non-endemis. Sementara di wilayah endemis, responsnya biasanya lebih fokus pada pengobatan,” kata Rita.

Tantangan lain muncul ketika pasien berhenti minum obat begitu gejala membaik. Padahal, pengobatan jangka panjang membutuhkan kepatuhan tinggi.

“Ini yang terkadang membuat sulit memotivasi pasien, apalagi jika mereka merasa sudah sembuh,” tambahnya.

Efek samping pengobatan, seperti hiperpigmentasi atau bercak kehitaman di kulit, juga bisa mengganggu secara estetika maupun psikologis pasien.

“Bercak itu membuat pasien kadang tidak siap menghadapi pertanyaan atau komentar orang di sekitarnya. Namun, logistik obat alhamdulillah tidak pernah ada kendala,” kata dia.

Menurut Rita, bekas bercak kehitaman sebenarnya bisa hilang, tetapi membutuhkan waktu. Semakin dini kasus ditemukan, semakin sedikit bercak yang tersisa dan dampaknya lebih ringan.

Setelah dinyatakan sembuh pun, pendampingan tetap diperlukan. Pasien tetap dipantau setiap enam bulan karena masa inkubasi panjang dan faktor mental sangat memengaruhi kondisi kesehatan.

“Kesehatan mental itu penting. Orang yang stres atau merasa rendah diri bisa lebih rentan,” kata Rita.

Target Jember ke depan bukan hanya mempertahankan eliminasi. Tapi mencapai tahap lebih tinggi, tidak adanya kasus kusta pada anak selama lima tahun berturut-turut.

Secara nasional, target eliminasi mengacu pada 2030. Namun bagi Rita, fondasi utamanya adalah literasi masyarakat.

“Selama kusta tidak lagi dianggap kutukan dan tidak ada diskriminasi terhadap penyintas, itu sudah menjadi fondasi kuat,” ujarnya.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Foto: Kementerian Kesehatan

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, juga menekankan agar masyarakat tidak takut memeriksakan diri jika mengalami gejala kusta.

Ia menegaskan, kusta bukan penyakit mistik atau kutukan, melainkan penyakit menular yang penyebabnya telah lama diketahui secara ilmiah dan dapat disembuhkan.

“Obatnya sudah tersedia. Begitu pengobatannya dimulai, dalam waktu kurang dari satu minggu pasien sudah tidak menularkan lagi,” jelasnya.

Sementara itu, WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, menekankan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam penanganan kusta secara global.

“Eliminasi kusta tidak hanya tentang pengobatan medis. Tapi juga tentang menghapus stigma dan memulihkan martabat manusia,” katanya.

Penyakit kusta bukanlah aib, melainkan penyakit yang dapat diobati. Dengan begitu, penderita tidak lagi takut memeriksakan diri, dan rantai penularan dapat diputus lebih cepat.

Kolaborasi Jadi Kunci

Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam pengendalian kusta. Secara global, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus kusta, setelah India dan Brasil.

Dosen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, Candra Bumi, menyebut posisi itu menunjukkan angka kasus di Indonesia masih relatif tinggi dan memerlukan perhatian berkelanjutan.

“Indonesia masih berada di urutan ketiga dunia setelah India dan Brasil. Artinya, beban kasus kita masih cukup besar,” ujarnya.

Di tingkat regional, Jawa Timur juga menjadi salah satu provinsi dengan temuan kasus yang signifikan. Sepanjang 2024, tercatat lebih dari 2.000 kasus baru kusta di provinsi ini.

Meski jumlah tersebut tidak setinggi Papua yang dikenal sebagai wilayah dengan beban kasus tinggi, angka di Jawa Timur tetap menjadi perhatian dalam upaya eliminasi.

Secara epidemiologis, kusta disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun penularannya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko.

Salah satunya kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita, terutama dalam satu rumah. Hal itu dapat menjadi faktor utama penyebaran.

Menurut Candra, kondisi sosial ekonomi juga turut berperan. Pada masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, hunian cenderung lebih padat sehingga risiko kontak intensif meningkat.

“Sanitasi yang kurang baik dan status gizi rendah juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, membuat seseorang lebih rentan tertular,” tambahnya.

Risiko semakin tinggi di daerah endemis. Di Jawa Timur, sejumlah wilayah di Madura, seperti Sumenep, selama ini dikenal sebagai daerah dengan kasus kusta relatif tinggi.

Faktor pendidikan juga memengaruhi, karena berkaitan dengan kesadaran untuk memeriksakan diri lebih awal dan memanfaatkan layanan kesehatan.

“Keterlambatan deteksi dan pengobatan dapat menyebabkan penularan terus berlanjut,” katanya.

Candra menilai, upaya pengendalian tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah saja. Pendekatan kolaboratif berbasis komunitas menjadi kunci.

Dengan melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga media. Melalui edukasi yang masif dan berkelanjutan, diharapkan masyarakat semakin memahami.

Inovasi Digital untuk Deteksi Kusta

Masih ditemukannya 1–9 penderita kusta di beberapa puskesmas mendorong tim dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Jember (Polije), mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dosen Polije, Tegar Wahyu Yudha Pratama, menjelaskan bahwa aplikasi ini bernama AI Kusta Care dan bertujuan membantu masyarakat melakukan deteksi dini penyakit kusta secara mandiri.

“Inisiasinya karena target global adalah nol kasus. Ketika kami melihat masih ada kasus di Jember, itu menjadi dorongan bagi kami,” kata Tegar.

Aplikasi ini dirancang agar masyarakat dapat melakukan skrining awal tanpa harus langsung datang ke fasilitas kesehatan.

Langkah tersebut dinilai penting, mengingat masih ada penderita yang merasa malu atau enggan memeriksakan diri karena stigma.

“Kami melihat langsung di lapangan, masih ada yang menunda berobat karena rasa malu. Dengan aplikasi ini, deteksi awal bisa dilakukan dari rumah,” ujarnya.

Tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije) mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama AI Kusta Care. Foto: RRI Jember

AI Kusta Care memiliki tiga menu utama yaitu skrining, edukasi, dan informasi layanan kesehatan terdekat.

Pada menu skrining, pengguna cukup masuk melalui akun Google, lalu memotret bagian kulit yang memiliki gejala seperti bercak merah atau putih.

Sistem kemudian menganalisis citra kulit tersebut dan membandingkannya dengan basis data gambar yang telah tersimpan.

“Jika terindikasi mengarah pada kusta, aplikasi akan memberikan rekomendasi untuk segera mendatangi layanan kesehatan,” kata di.

Sebaliknya, jika tidak terindikasi, pengguna tetap memperoleh saran tindak lanjut sesuai hasil analisis. Komponen utama yang dianalisis adalah citra kulit.

Akurasi sistem sangat bergantung pada kualitas foto yang diunggah, termasuk pencahayaan dan kejelasan gambar.

Sejak tahap simulasi, aplikasi ini telah digunakan lebih dari 50 orang di Desa Kasiyan, Kecamatan Puger. AI Kusta Care bersifat open source dan telah tersedia di Playstore, sehingga dapat diakses secara luas.

“Kami memilih Desa Kasiyan menjadi lokasi uji coba, karena termasuk salah satu wilayah yang tinggi angka kustanya. Dalam uji coba 50 orang itu, belum ditemukan yang positif,” kata dia.

Saat ini, timnya tengah merencanakan integrasi sistem dengan layanan kesehatan. Jika terealisasi, hasil skrining masyarakat nantinya dapat langsung dimonitor oleh puskesmas untuk dianalisis lebih lanjut.

“Tahun lalu fokus kami membantu masyarakat melakukan deteksi mandiri. Ke depan, hasilnya bisa langsung terhubung dengan tenaga kesehatan agar tindak lanjut lebih cepat,” kata dia.

Tim pengembang berharap inovasi ini bisa membantu mempercepat target eliminasi kusta di Jember.

Namun, tantangan terbesar masih pada literasi digital masyarakat, terutama di wilayah pedalaman.

“Banyak masyarakat menggunakan ponsel hanya untuk komunikasi. Untuk aplikasi kesehatan, perlu pendampingan,” kata Tegar.

Selain literasi digital, tantangan lainnya adalah kualitas dan kelengkapan data. Karena sistem AI bekerja berdasarkan basis data yang dimasukkan, penambahan dan pembaruan data citra menjadi kunci peningkatan akurasi.

Adapun respons masyarakat saat uji coba dinilai cukup positif. Beberapa warga mencoba mendeteksi kondisi kulitnya sendiri. Bahkan ada yang semula mengira terkena kusta, tetapi setelah dianalisis ternyata tidak.

Tegar menegaskan bahwa AI bukanlah sistem yang asal memutuskan, melainkan bekerja berdasarkan perbandingan data gambar yang telah tersimpan di dalam sistem.

“Teknologi ini bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, tetapi membantu. AI bisa meringankan tugas tenaga medis sekaligus meningkatkan kemandirian masyarakat dalam deteksi dini,” katanya.

Lebih jauh, kehadiran teknologi juga diharapkan mampu mengikis stigma. Kusta adalah penyakit infeksi yang bisa disembuhkan, dan pengobatannya tersedia gratis di fasilitas kesehatan.

Pesan utama yang ingin disampaikan melalui inovasi ini sederhana, jangan takut dan jangan malu untuk memeriksakan diri. Semakin cepat kusta terdeteksi, semakin kecil risiko kecacatan dan penularan.

“Manfaatkan teknologi untuk kesehatan. Gunakan dengan bijak demi kesehatan bersama,” kata Tegar.

Di balik sistem dan data, cerita seperti Doni menjadi salah satu wajah paling nyata dari perjuangan eliminasi penyakit kusta.

Menurutnya, penanganan kusta di Jember sudah berjalan baik dan profesional. Ia merasakan langsung kemudahan akses obat dan pendampingan dari tenaga kesehatan.

“Tinggal kesadaran masyarakat yang perlu terus ditingkatkan agar tidak menganggap remeh penyakit ini,” katanya.

Keberhasilan penanganan kusta bukan hanya soal obat. Tapi juga dukungan tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, dan lainnya.

Sinergi semua pihak inilah yang membuatnya bisa kembali percaya diri dan aktif beraktivitas

Setelah seluruh terapi dijalani hingga tuntas, tidak ada lagi gejala baru yang muncul. Sekitar 90 persen, kondisi kulitnya telah kembali seperti semula.

Bagi Doni, sembuh bukan hanya soal warna kulit. “Makna sembuh bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan sosial. Bisa kembali percaya diri dan beraktivitas seperti sebelumnya,” katanya.

Lambat laun, hidupnya kembali normal. Ia bekerja tanpa lagi dihantui kecemasan. Rasa percaya diri yang sempat runtuh mulai pulih.

Bahkan, semangatnya untuk bangkit mengantarkannya meraih predikat pegawai berprestasi di tempat ia bekerja. Sebuah capaian yang terasa jauh lebih berarti setelah melewati masa sulit.

Rekomendasi Berita