Dwi Soetjipto Taklukkan Tanjakan Ekstrem Banyuwangi Ijen Kom
- 27 Sep 2025 18:14 WIB
- Jember
KBRN, Banyuwangi: Di usianya yang hampir tujuh dekade, Dwi Soetjipto sukses menaklukkan tanjakan estrem yang disuguhkan dalam Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM 2025, Sabtu (27/9/2025). Pria kelahiran 1956 itu turun di kategori Man Age 60+ tersebut, memilih tantangan menaklukan Ijen dengan sepeda kesayangannya, ketika banyak orang seusianya memilih hidup tenang.
Blue Fire Ijen KOM merupakan seri pamungkas dari Trilogy Mainsepeda, ajang balap sepeda tanjakan paling bergengsi di Indonesia. Sebelumnya, ia sukses menuntaskan Bromo KOM dan Kediri Dholo KOM dengan gradien 24 persen.
Dwi Soetjipto yang mengendarai roadbike Bastion berbahan karbon dan titanium, sukses menyelesaikan event yang menempuh rute sejauh 86,9 kilometer. Dengan jalur dengan Hors Categorie (HC), tanjakan dengan gradien puncak 34 persen dan elevasi total 1.708 meter, sukses Ia ditaklukkan, seklaigus menjadi tantangan terbesar sepanjang perjalanannya.
Ia mengaku, gradien ekstrem tidak hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga mental. Untuk persiapan, ia berlatih sebulan penuh di Bogor dengan menanjak ke rute Kebo, Cipanas, hingga Puncak. Sebelum race Ia Bersama enam rekannya,sempat menjajal jalur menuju Djawatan Banyuwangi sebagai pemanasan.
“Ini jalur terberat dari trilogi Mainsepeda,” ujar Dwi yang kini berusia 69 tahun.
Meski tak menargetkan podium, perjuangan Dwi berakhir manis. Ia berhasil menyentuh garis finish sekitar pukul 13.00 WIB atau setengah jam sebelum batas waktu resmi. Dengan capaian itu, ia meraih medali Banyuwangi Blue Fire Ijen KOM, melengkapi dua medali seri sebelumnya yang bisa dirangkai menjadi piramida prestisius. Baginya, garis finish hanyalah simbol, sementara konsistensi dan semangat berbagi lebih utama.
“Usia memang handicap, tapi kalau keinginan sudah kuat, saya yakin bisa. Karena pada akhirnya, hidup ini bukan soal menang atau kalah, melainkan bagaimana kita tetap bergerak maju,” kata Dwi.
Perjalanan Dwi bersama sepeda sejatinya dimulai sejak 2005, ketika ia rutin menjajal medan ekstrem Bukit Kapur Gresik dengan sepeda gunung. Kebiasaan itu berkembang menjadi ritus kesehatan, disiplin, dan kedekatan sosial. Pada 2020, ia beralih ke roadbike dan konsisten berlatih tiga kali sepekan, dengan jarak rata-rata 60 kilometer per sesi.
Dwi juga mendirikan komunitas MOBCC – Mind Over Body Cycling Club, dengan filosofi bahwa kekuatan pikiran mampu menggerakkan tubuh. Kiprahnya bahkan menembus ajang internasional, dari Gran Fondo New York (GFNY) Bali hingga tercatat di jajaran 110 pesepeda tercepat dunia.
Bagi Dwi, bersepeda bukan sekadar olahraga, melainkan cara untuk terus menulis ulang kisah hidup. Satu kilometer demi satu kilometer, ia membuktikan bahwa semangat bisa melampaui batas usia.