Kenapa Motivasi Turun setelah Liburan
- 02 Mar 2026 09:57 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Setelah libur panjang—termasuk Lebaran—banyak orang merasa sulit kembali fokus. Alarm terasa lebih berat, pekerjaan menumpuk, dan semangat seperti menguap. Fenomena ini dikenal sebagai post-holiday blues, kondisi psikologis ringan yang umum terjadi setelah periode istirahat panjang.
1. Perubahan Ritme yang Mendadak
Saat liburan, otak terbiasa dengan pola santai: bangun lebih siang, minim tekanan, banyak aktivitas menyenangkan. Ketika kembali ke rutinitas kerja, terjadi “kejutan ritme”.
Menurut American Psychological Association, perubahan mendadak dalam struktur aktivitas dapat meningkatkan stres ringan dan menurunkan energi mental.
2. Dopamin Turun Setelah Fase “Reward”
Liburan identik dengan hal menyenangkan—makanan enak, kumpul keluarga, perjalanan. Semua ini memicu dopamin (hormon rasa senang).
Saat kembali ke rutinitas, level stimulasi menurun drastis. Otak merasa aktivitas harian kurang “rewarding”, sehingga muncul rasa malas dan kurang motivasi.
3. Tumpukan Tugas yang Mengintimidasi
Kembali kerja sering berarti:
Email menumpuk
Deadline mendekat
Target belum tercapai
Tekanan ini bisa membuat otak memilih menunda (prokrastinasi) sebagai mekanisme perlindungan diri. Pembahasan tentang beban kerja dan produktivitas ini sering diulas dalam Harvard Business Review sebagai faktor utama turunnya engagement karyawan.
4. Gangguan Pola Tidur
Selama liburan, jam tidur sering berubah. Kurang tidur atau pola yang tidak konsisten berpengaruh langsung pada:
Fokus
Mood
Energi harian
National Sleep Foundation menegaskan bahwa kualitas tidur berperan besar dalam stabilitas emosi dan performa kerja.
5. Tidak Ada Tujuan Jangka Pendek
Saat liburan, tujuan jelas: menikmati waktu bersama keluarga. Setelahnya, banyak orang kembali pada rutinitas tanpa target spesifik. Tanpa arah yang jelas, motivasi mudah turun.
Solusinya:
Tetapkan 1–3 target mingguan
Pecah tugas besar menjadi langkah kecil
Rayakan progres kecil
Motivasi bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi dibangun melalui aksi kecil yang konsisten. Dengan memahami penyebabnya, kamu bisa mengelola fase ini secara sadar—bukan sekadar menyalahkan diri sendiri karena merasa “malas”.