WWF Ajak Komunitas Gaungkan Isu Triple Planetary Crisis

  • 17 Jun 2026 19:19 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - WWF Indonesia Program Papua bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura mengajak berbagai elemen masyarakat untuk mengambil peran dalam menghadapi tiga krisis lingkungan global atau triple planetary crisis, melalui aksi nyata di tingkat komunitas. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan pengolahan sampah makanan menjadi kompos dan penyusunan konten kampanye lingkungan di media sosial.

Kegiatan bertajuk "Ko Bijak Pangan, Ko Selamatkan Bumi" itu digelar di Holey Narey Learning Centre WWF Indonesia Program Papua dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Peserta berasal dari komunitas lintas agama, masyarakat adat, mahasiswa, komunitas peduli lingkungan, hingga sekolah Adiwiyata.

Staf Kampanye dan Outreach WWF Indonesia Program Papua, Adelia Tania mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tiga persoalan besar yang saat ini dihadapi dunia, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

"Tujuan kegiatan hari ini adalah memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang memiliki tiga pembahasan besar, yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah. Kami ingin melihat apa yang bisa dilakukan di skala komunitas untuk menghambat laju tiga krisis tersebut," kata Adelia Tania, Rabu (17/06/2026).

Menurut Adelia, menghadapi persoalan lingkungan tidak selalu membutuhkan langkah besar, masyarakat dapat memulainya dari kebiasaan sederhana, salah satunya mengelola sampah makanan menjadi kompos.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak mempraktikkan langsung pembuatan kompos bersama Komunitas Robongholo dengan memanfaatkan ampas sagu sebagai bahan baku.

"Nah, salah satunya adalah pengolahan kompos. Tadi kami sudah praktik bersama komunitas Robongholo menggunakan ampas sagu. Itu merupakan salah satu cara untuk membantu menghambat laju perubahan iklim," ujarnya.

Selain praktik pengomposan, WWF juga membekali peserta dengan pelatihan penyusunan konten kampanye di media sosial. Menurut Adelia, edukasi yang diterima masyarakat perlu diteruskan agar menjangkau lebih banyak orang.

"Rasanya tidak klop kalau edukasi yang kita dapatkan tidak disebarluaskan kepada masyarakat luas. Makanya kami lanjutkan dengan perencanaan konten kampanye agar pesan-pesan lingkungan bisa disebarkan melalui media sosial," tuturnya.

Di kesempatan yang sama, Community Development Officer WWF Indonesia Program Papua, Elvin Wahyu Wardana menambahkan, pelatihan tersebut dirancang tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga aksi nyata yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat.

Menurut Elvin, praktik baik yang dilakukan peserta nantinya diharapkan dapat dikembangkan menjadi materi kampanye dan edukasi yang dapat menjangkau masyarakat lebih luas.

"Dari praktik baik ini disambungkan kepada kampanye dan edukasi. Harapannya nanti bisa disebarluaskan kepada akademisi, komunitas lain, dan semua elemen masyarakat sehingga kita bisa berkolaborasi menghadapi isu triple planetary crisis," ungkap Elvin.

Menurut Elvin, salah satu poin yang tidak terlewatkan, adalah pemberian pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah berbasis komunitas, yang nantinya dapat diimplementasikan melalui aksi nyata seperti pengomposan.

Melalui kegiatan ini, WWF Indonesia Program Papua dan DLH Kabupaten Jayapura berharap masyarakat tidak hanya memahami keterkaitan antara sampah makanan dan ancaman triple planetary crisis, tetapi juga menjadi pelaku perubahan di lingkungannya masing-masing.

Sementara itu, perwakilan PAM GKI Onomi Felavauw, Yulius Hindom menjelaskan, pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang sejalan dengan nilai-nilai kehidupan bermasyarakat dan keagamaan.

"Agama mengajarkan kita untuk hidup harmonis dengan alam. Oleh karena itu, edukasi mengenai kebiasaan sederhana seperti mengolah sampah makanan sangat penting untuk dipahami dan disebarluaskan," ujarnya.

Yulius mengaku pelatihan tersebut memberikan motivasi baru bagi komunitasnya untuk kembali mengaktifkan pengelolaan sampah organik di lingkungan gereja.

"Sebenarnya gereja kami sudah memiliki fasilitas komposter, tetapi sudah lama tidak aktif. Saya rasa pelatihan ini sangat membantu untuk menghidupkan kembali semangat kolaborasi dalam mengolah sampah di lingkungan gereja," katanya.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam pelatihan tersebut dapat diterapkan dan dibagikan kepada masyarakat lain sehingga semakin banyak komunitas yang terlibat dalam menjaga lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....