BI Papua Catat Inflasi Papua dan Tiga DOB di April 2026 Tetap Terkendali

  • 15 Mei 2026 20:20 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Papua mencatat Inflasi di wilayah kerjanya pada April 2026 tetap terjaga dengan baik, meski seluruh provinsi mengalami inflasi bulanan.

Pelaksana Harian Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar mengatakan, kondisi ini dipengaruhi normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, di tengah kenaikan harga avtur dan BBM non-subsidi serta belum masuknya masa panen raya hortikultura lokal.

Lebih lanjut dijelaskan, inflasi di Papua dan tiga Daerah Otonomi Baru (DOB) masih berada dalam rentang yang terkendali berkat sinergi pengendalian inflasi bersama pemerintah daerah dan mitra strategis.

“Inflasi pada April 2026 tetap terjaga seiring dengan normalisasi permintaan pasca-HBKN Idul Fitri, walaupun terdapat tekanan dari kenaikan harga avtur, BBM non-subsidi, serta belum masuknya periode panen raya hortikultura lokal,” ujar David Sipahutar, Jumat (15/05/2026).

Lanjut David Sipahutar, di Provinsi Papua, inflasi tercatat sebesar 0,98 persen secara bulanan (mtm), 1,39 persen tahun berjalan (ytd), dan 3,80 persen secara tahunan (yoy). Inflasi terutama dipicu kenaikan harga ikan tuna, angkutan udara, dan tomat. Sementara itu, penurunan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan buah pinang menahan laju inflasi.

Untuk Provinsi Papua Selatan, inflasi bulanan tercatat 0,94 persen, dengan inflasi tahunan 3,34 persen. Kenaikan harga angkutan udara, sawi hijau, dan kangkung menjadi penyumbang utama inflasi, sedangkan penurunan harga emas perhiasan, cabai merah, dan ikan mujair menahan tekanan harga.

Di Provinsi Papua Tengah, inflasi relatif lebih rendah, yakni 0,21 persen secara bulanan dan 1,53 persen secara tahunan. Komoditas bawang merah, tomat, dan angkutan udara menjadi penyumbang utama inflasi. Sementara cabai rawit, emas perhiasan, dan daging ayam ras mengalami penurunan harga.

“Adapun Provinsi Papua Pegunungan mencatat inflasi tertinggi di antara wilayah lainnya, yakni 0,77 persen secara bulanan dan 4,89 persen secara tahunan. Inflasi dipicu kenaikan harga angkutan udara, tomat, dan beras. Sedangkan penurunan harga ketela rambat, telur ayam ras, dan emas perhiasan membantu menahan laju inflasi,” papar David Sipahutar..

David Sipahutar menambahkan, berbagai langkah pengendalian inflasi terus diperkuat melalui empat strategi utama, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Dalam upaya menjaga keterjangkauan harga, Gerakan Pangan Murah (GPM) secara rutin dilaksanakan di Papua dan tiga DOB bekerja sama dengan pemerintah daerah, Bulog, dan mitra terkait.

Selain itu, dukungan sarana dan prasarana produksi serta distribusi bagi kelompok tani komoditas cabai dan hortikultura juga diberikan di Papua Tengah guna menjaga pasokan dan memperlancar distribusi pangan.

Di sisi komunikasi, edukasi pengendalian inflasi dilakukan melalui media sosial dan kegiatan literasi kepada mahasiswa di wilayah kerja KPw BI Provinsi Papua.

“Sinergi dan kolaborasi bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra strategis akan terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di Papua dan wilayah DOB,” tutup David Sipahutar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....