Perjuangan MPASI, Saat Mental Orang Tua Ikut Diuji

  • 06 Feb 2026 03:29 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - MPASI sering dibayangkan sebagai momen menyenangkan saat bayi mulai mengenal makanan pertama. Namun bagi banyak orang tua, fase ini justru menjadi ujian kesabaran yang tidak sederhana.

Anak menutup mulut, memalingkan wajah, atau memuntahkan makanan yang sudah disiapkan dengan penuh usaha. Di saat yang sama, orang tua mulai bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan cara mereka memberi makan.

Tekanan semakin terasa, ketika standar dari luar ikut masuk, mulai dari jadwal ideal hingga porsi yang harus dihabiskan. Media sosial, tanpa sadar membuat orang tua membandingkan anaknya dengan bayi lain yang terlihat lahap dan ceria.

Padahal setiap anak punya ritme makan dan proses adaptasi yang berbeda. MPASI bukan kompetisi, melainkan perjalanan panjang mengenalkan rasa, tekstur, dan kebiasaan makan.

Yang sering terlupakan, perjuangan MPASI bukan hanya soal makanan di piring, tapi kondisi mental orang tua yang mengolahnya. Rasa cemas, takut gagal, hingga merasa tidak cukup baik, kerap menyelinap diam-diam.

Banyak orang tua merasa lelah secara emosional, ketika usaha berulang tak membuahkan hasil instan. Di sinilah pentingnya jeda, menarik napas, dan mengingat, bahwa anak belajar dari suasana, bukan paksaan.

Ketika orang tua mulai lebih tenang, anak pun cenderung lebih nyaman saat makan. Hubungan emosional yang hangat, sering kali jauh lebih berpengaruh daripada menu yang sempurna.

Pada akhirnya, MPASI adalah proses belajar dua arah antara anak dan orang tua. Bukan tentang seberapa cepat anak mau makan, melainkan seberapa kuat orang tua bertahan dengan empati dan kesabaran.

Rekomendasi Berita