Pertamina Dorong Ekspor SAF, Dorong Dekarbonisasi Penerbangan Global

  • 28 Feb 2026 15:39 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) bersertifikasi global dan siap memasuki pasar internasional, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Langkah ini bagian dari strategi dekarbonisasi sektor penerbangan dan memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi dunia. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan hal itu pada ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia. “Forum ini mempertemukan produsen SAF global dan pemangku kepentingan keberlanjutan dunia. Kehadiran Pertamina menunjukkan Indonesia bagian dari solusi global,” ujarnya.

Agung menambahkan, Pertamina menargetkan pasar regional dan global dengan SAF berbasis limbah yang siap ekspor dan bersaing secara teknis maupun keberlanjutan. Seluruh rantai nilai SAF mulai pengumpulan bahan baku, pemurnian, hingga distribusi telah tersertifikasi ISCC, menjamin ketelusuran dan kepatuhan standar global.

“Fokus kami bukan hanya produksi, tetapi membangun ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui dunia,” kata Agung yang dilansir dari laman pertamina.com. SAF Pertamina diproduksi melalui co-processing minyak jelantah di Green Refinery Cilacap, dengan uji teknis telah dilakukan pada pesawat Airbus A320 milik Pelita Air Services.

Pertamina tengah menyiapkan ekspansi skala komersial melalui Biorefinery Cilacap Fase 2, ditargetkan on stream 2029, mendukung mandat campuran SAF 1% untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027. Agung menekankan perlunya kepastian regulasi dan harmonisasi standar karbon lintas negara agar SAF Indonesia diakui global.

“Pasar wajib memberikan kepastian permintaan, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi. Kuncinya regulasi jelas, sertifikasi kuat, dan harmonisasi internasional,” kata Agung.

Pertamina menilai tantangan utama bukan teknologi, melainkan ketersediaan bahan baku berkelanjutan, seperti minyak jelantah dan residu POME, untuk mendukung SAF global tanpa bersaing dengan pangan. Upaya ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita