Kartini dan Tantangan Perempuan Indonesia di Era Kecerdasan Buatan
- 29 Apr 2026 09:30 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia kembali mengenang Kartini yang berani menantang ketidakadilan dengan pena dan pikiran jernihnya. Tahun 2026 ini peringatan itu terasa berat sebab perempuan menghadapi tantangan baru bernama kecerdasan buatan yang kian canggih.
Organisasi Buruh Internasional atau ILO menerbitkan laporan penting Maret 2026 yang menjadi sinyal keras bagi pemangku kebijakan dunia. Laporan itu menegaskan pekerjaan yang dikuasai perempuan hampir dua kali lebih rentan terdampak otomatisasi kecerdasan buatan daripada laki-laki.
Data dalam laporan ILO itu menunjukkan sekitar 29 persen pekerjaan perempuan berisiko terpapar kecerdasan buatan generatif secara global. Angka itu jauh melampaui 16 persen pekerjaan laki-laki, dengan risiko otomatisasi tertinggi 16 persen berbanding tiga persen saja.
Posisi sekretaris, staf administrasi, juru ketik, dan tenaga pembukuan yang diandalkan jutaan perempuan Indonesia paling rentan tergantikan mesin. Pekerjaan itu bersifat rutin dan mudah dikodekan oleh algoritma, sehingga menjadi incaran utama mesin cerdas yang terus berkembang.
Perempuan juga masih sangat kurang hadir dalam barisan orang yang merancang dan mengembangkan teknologi kecerdasan buatan dari pusatnya. Laporan WEF bertajuk Global Gender Gap Report 2024, mencatat perempuan hanya mengisi 28,2 persen tenaga kerja STEM dunia.
ILO mengingatkan bahwa kecerdasan buatan tidak pernah netral karena selalu lahir dari nilai dan struktur sosial yang ada. Ketika perempuan absen dari ruang desain algoritma, sistem yang lahir berisiko memperkuat bias gender yang telah lama ada.
Semangat Kartini yang mendorong perempuan memasuki dunia pendidikan, kini harus terus berlanjut ke ruang teknologi yang paling strategis. Selama perempuan Indonesia terus berjuang hadir dan bersuara, tidak ada satu tembok algoritma yang tidak bisa runtuh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....