Meutya Dorong Inovasi Digital Berorientasi pada Kepentingan Manusia

  • 30 Sep 2026 13:16 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak boleh hanya mengejar kemajuan. Manfaatnya harus dirasakan manusia dan risikonya harus bisa dikendalikan. Pesan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam UNSW Indonesia Alumni Reception bertema "Human Connection in a Digital World" di Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

"Menurut saya, kata kuncinya adalah bertanggung jawab. Bukan sekadar mendorong inovasi, kita percaya dan saya kira Australia juga memiliki semangat yang sama bahwa setiap inovasi harus dikembangkan secara bertanggung jawab," ujar Meutya.

Menurut Meutya, keahlian University of New South Wales (UNSW) di bidang kecerdasan artifisial (AI), ilmu data, dan keamanan siber sejalan dengan kebutuhan Indonesia di tengah percepatan transformasi digital. Ia menilai alumni berada di posisi strategis untuk menjembatani pengetahuan akademik, pengalaman profesional, dan kebutuhan pembangunan.

"Hal ini membuka peluang untuk bertukar gagasan dan mengembangkan teknologi yang melayani serta melindungi manusia, bukan justru menjadi gangguan bagi kemanusiaan," katanya.

Selain teknologi digital, Meutya juga melihat peluang kontribusi alumni di sektor lain. Di bidang energi, keahlian energi terbarukan dapat menghubungkan riset dengan kebutuhan transisi energi nasional. Di bidang pendidikan, alumni dapat berperan lewat mentoring, pelatihan, dan penguatan hubungan perguruan tinggi dengan industri agar lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Ia berharap pembentukan kembali UNSW Indonesia Alumni Chapter menjadi langkah konkret. Menurutnya, jejaring alumni tidak cukup menjadi tempat berkumpul, tetapi harus menjadi ruang bertukar gagasan, berkolaborasi lintas bidang, dan merumuskan solusi bagi persoalan bangsa. Kontribusi itu, kata dia, juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kesempatan itu, Meutya turut menyinggung hubungan Indonesia dan Australia yang terus berkembang. Ia mengaku terus menjalin komunikasi dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, termasuk lewat pertemuan di sela Sidang Umum PBB beberapa hari sebelumnya. Ia juga mengingat pengalamannya mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Australia pada Agustus 2024, sebelum pelantikan presiden pada Oktober 2024.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....