Kampung Nelayan Samber Binyeri Dongkrak Produksi dan Pendapatan
- 18 Apr 2026 12:11 WIB
- Jayapura
RRI.CO.ID, Jayapura – Model kampung nelayan modern di Samber Binyeri, Biak Numfor, menunjukkan peningkatan produksi dan pendapatan nelayan. Model ini menjadi percontohan pengembangan kampung nelayan Merah Putih di berbagai daerah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Papua, Iman Djuniawal, mengatakan konsep tersebut dibangun untuk mendorong kemandirian kampung melalui penyediaan sarana dan prasarana. “Sarana prasarana dilengkapi agar proses hulu sampai hilir bisa berlangsung di kampung itu sendiri,” kata Iman, Sabtu, 18 April 2026.
Ia menjelaskan, model ini berawal dari pengembangan kampung nelayan maju yang diperkuat setelah momentum Sail Teluk Cenderawasih. “Kampung yang sebelumnya hanya tempat pendaratan nelayan kemudian dilengkapi fasilitas agar kegiatan produksi hingga pemasaran bisa dilakukan di kampung,” ujar dia.
Menurutnya, dampak program terlihat dari peningkatan nilai tukar nelayan (NTN) sebagai indikator kesejahteraan. “Nilai tukar nelayan yang sebelumnya sekitar 109 meningkat menjadi 113,2, yang menunjukkan kemampuan daya beli nelayan meningkat,” ucapnya.
Selain itu, volume pengiriman ikan pada 2025 mencapai sekitar 295 ton dengan nilai Rp4,75 miliar. “Sebelumnya tidak sebesar itu karena kualitas ikan sangat ditentukan dari penanganan hulu hilir,” kata ia
Ia menyebut, kualitas ikan yang terjaga membuat harga jual di pasar menjadi lebih tinggi. “Dengan kualitas yang baik, ikan diterima pasar dengan harga lebih tinggi dibanding penanganan yang tidak baik,” ujar Iman lagi.
Iman menambahkan, pendapatan nelayan juga mengalami peningkatan. “Pendapatan nelayan yang sebelumnya sekitar Rp2,6 juta meningkat menjadi Rp4,35 juta sampai Rp7,73 juta per bulan,” ucap ia menambahkan.
Selain itu, produksi ikan meningkat dari sekitar Rp446 juta per bulan menjadi Rp904 juta per bulan. Penjualan ikan juga naik dari sekitar Rp9 juta menjadi Rp15 juta per bulan.
Ia mengatakan, peningkatan kualitas dan kuantitas produksi turut memperluas jangkauan pemasaran. “Pengiriman ikan sudah menjangkau Semarang, Surabaya, dan Jakarta,” katanya.
Menurutnya, ketersediaan kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu distribusi menjadi faktor penting dalam pemasaran. “Dengan kualitas, kuantitas, dan delivery time yang tepat, hasil tangkapan bisa terserap pasar dengan baik,” ujarnya.
Ia berharap model kampung nelayan ini dapat diterapkan di wilayah lain di Papua. “Dengan model ini, peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan bisa lebih mudah dicapai dan diukur,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....