Aktivitas Pelabuhan Jayapura Jelang Lebaran Terpantau Normal

  • 10 Mar 2026 12:49 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Aktivitas di Pelabuhan Jayapura menjelang arus mudik Lebaran tahun ini masih terpantau normal dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 4 Cabang Jayapura, Ramdan Affan Kiai Demak mengatakan, kondisi tersebut memang sudah menjadi pola yang terjadi di wilayah timur Indonesia. Momentum mudik Lebaran tidak memberikan dampak peningkatan aktivitas yang terlalu besar di pelabuhan, berbeda dengan periode Natal dan Tahun Baru yang biasanya memicu lonjakan penumpang.

“Untuk aktivitas di pelabuhan sampai saat ini menjelang arus mudik Lebaran masih cenderung biasa saja. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, di wilayah timur memang tidak terlalu berdampak signifikan seperti pada masa Natal dan Tahun Baru,” ujarnya.

Meski demikian, Pelindo tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada para pengguna jasa pelabuhan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan perbaikan serta penambahan fasilitas di terminal penumpang Pelabuhan Jayapura.

Ramdan menjelaskan, sejumlah fasilitas yang sebelumnya belum selesai saat periode Natal dan Tahun Baru kini telah rampung, termasuk tangga akses di sisi laut terminal penumpang serta penambahan kanopi pada area tunggu.

“Sekarang fasilitas tersebut sudah selesai, sehingga kami berharap dapat memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang yang akan menggunakan Pelabuhan Jayapura untuk mudik nanti. Apalagi kapasitas terminal penumpang memang terbatas, sehingga penambahan kanopi diharapkan bisa memberikan ruang tunggu yang lebih luas,” jelasnya.

Sementara itu, untuk aktivitas logistik melalui peti kemas di Pelabuhan Jayapura, hingga saat ini juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sepanjang tahun terakhir, arus peti kemas tercatat sekitar 86 ribu TEUs per tahun, hanya mengalami kenaikan sekitar dua persen dibanding tahun sebelumnya.

Namun demikian, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, angka tersebut justru mengalami penurunan sekitar 4 ribu TEUs. Pada 2024 lalu, arus peti kemas sempat mencapai lebih dari 90 ribu TEUs.

Menurut Ramdan, penurunan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dinamika pemerintahan daerah yang masih dalam proses pasca Pemilihan Kepala Daerah 2024 serta pembentukan Daerah Otonomi Baru Papua. Kondisi tersebut berdampak pada terbatasnya penggunaan anggaran daerah sehingga aktivitas proyek dan distribusi logistik ikut melambat.

“Karena saat itu banyak daerah dipimpin oleh pelaksana tugas (Plt), sehingga kewenangan penggunaan anggaran terbatas. Dampaknya aktivitas pembangunan juga berkurang dan berpengaruh pada arus logistik yang masuk melalui pelabuhan,” katanya.

Meski demikian, Pelindo optimistis aktivitas logistik pada 2026 akan mengalami peningkatan seiring dengan mulai definitifnya pemerintahan daerah di Papua. Selain itu, berbagai upaya pembangunan yang sedang diinisiasi pemerintah daerah diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan distribusi logistik melalui pelabuhan.

Ramdan menilai, komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah.

“Kami optimistis pada 2026 akan ada peningkatan seiring dengan mulai bergeraknya pembangunan daerah. Apalagi pemerintah daerah juga sudah menjalin koordinasi dengan kementerian terkait untuk mendorong pembangunan di daerah,” ujarnya.

Meski demikian, Pelindo menargetkan pertumbuhan arus peti kemas di Pelabuhan Jayapura secara realistis, yakni sekitar 2 hingga 2,5 persen per tahun. Hal ini didasarkan pada tren pertumbuhan yang selama ini cenderung stabil namun tidak terlalu tinggi.

Ramdan menambahkan, lonjakan signifikan terakhir yang terjadi di Pelabuhan Jayapura terjadi saat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional 2021 Papua, di mana arus peti kemas sempat menembus angka 100 ribu TEUs.

“Biasanya peningkatan signifikan hanya terjadi saat ada kegiatan besar seperti PON. Selebihnya pertumbuhan cenderung stabil, sehingga target 2 sampai 2,5 persen kami nilai cukup realistis,” tutupnya.

Rekomendasi Berita