Harapan Generasi Muda Terhadap Kepala Daerah Terpilih 2024

  • 20 Jan 2025 16:21 WIB
  •  Jambi

Oleh : Zakly Hanafi Ahmad, S.I.P., M.Sos (Dosen Ilmu Politik, Universitas Jambi)

KBRN, Jambi : Pemilihan Kepala Daerah Tahun 2024 telah selesai dilaksanakan, banyak wajah-wajah baru yang muncul sebagai pemenang yang nantinya akan memimpin daerah-daerah di seluruh penjuru Indonesia. Kalau kita lihat kebelakang, banyak sekali strategi kampanye kepala daerah pada tahun 2024 ini yang menunjukkan cairnya kedekatan mereka bersama generasi muda, generasi muda dalam hal ini seperti generasi milenial dan generasi Z menjadi ujung tombak dalam segala teknis kegiatan kampanye, khususnya yang berbasis konten pada media sosial.

Bukan tanpa alasan, mulanya kita lihat pada Pemilihan Umum Tahun 2024 khususnya pada pemilihan Presiden, strategi ini menjadi pioner penggerak dan menjadi ikonik utama yang harus ditampilkan untuk mencari simpati pemilih, khususnya pada generasi muda yang terhitung lebih dari setengah dari total jumlah pemilih merupakan generasi Y dan Z. Jika kita lihat dari fenomenanya, tidak ada yang menyangka sebelumnya, Prabowo Subianto yang kita kenal sejak dahulu sebagai pribadi yang tegas dan militeristik tiba-tiba muncul dengan gaya baru seperti joget "gemoynya" dengan lagu "oke gas" yang menjadi viral hingga mancanegara.

Terlebih lagi dengan keputusan koalisi besarnya mengusung Gibran Rakabuming yang disimbolkan sebagai perwakilan anak muda Indonesia yang pada akhirnya membuat ketertarikan yang luar biasa hingga anak-anak dibawah umur pun memahami "joget gemoy" tersebut hingga menghapal lagu "oke gasnya". Bahkan bukan hanya berbicara dalam taraf hiburan, keterlibatan generasi muda yang lebih ditampilkan sebagai juru kampanye di media, konten-konten yang bernuansa lebih "cair" membuat elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran memuncak keatas.

Para calon Legislatif pun juga kurang lebih melakukan pendekatan yang sama, pendekatan dengan metode kaku bak pemimpin kolonial dahulu nampaknya kurang diminati dan sudah berganti "eranya". Meskipun pada 2014 dan 2019 metode yang dipakai Presiden Joko Widodo menuju kursi RI 1 lebih kepada gaya yang merakyat dan polos, tapi kali ini dirasa perlu penyegaran dan menonjolkan sisi pemahaman terhadap generasi muda yang hampir sebagian besar itu memiliki akun media sosial dan memiliki tingkat keaktifan di dunia digital lebih tinggi.

Melihat suksesnya upaya tersebut membuat kampanye kepala daerah kurang lebih meniru "metode" yang sama bahkan tidak sedikit juga yang turut mencoba kombinasi lintas generasi yang mana Calon kepala daerah nya cukup berumur dan matang sedangkan Wakilnya berasal dari generasi muda, maupun sebaliknya.

Pendek cerita, usai sudah masa-masa kampanye tersebut. Hari ini sudah terpilih pemimpin baru disetiap daerah yang sebentar lagi akan dilantik pada bulan Februari 2025 meskipun ada beberapa wilayah yang masih dalam proses sengketa di Mahkamah Konstitusi. Cerita berlanjut kembali kepada peran generasi muda yang terlihat sangat signifikan pada pergelaran kampanye lalu dan menimbulkan pertanyaan baru kedepannya, "apakah generasi muda juga akan dilibatkan pada proses pembangunan daerah pasca dilantiknya kepala daerah baru?".

Hal ini tentu menjadi hal yang sangat diharapkan bahwa kedepannya kepala daerah terpilih yang dilantik membuat program- program yang mengarah pada pemberdayaan kepemudaan dengan perencanaan yang matang. Keterlibatan pemuda diharapkan bukan hanya menyasar pada pendukung atau tim kampanye saja, tetapi perlu dibuat forum-forum yang cukup "ilmiah" dalam proses penyerapan aspirasi para pemuda, termasuk juga mendengar aspirasi dari teman-teman aktivis mahasiswa ataupun organisasi kepemudaan dimasyarakat.

Pemerintah daerah diharapkan bukan hanya menunggu aspirasi datang, akan tetapi turut aktif dalam "menjemput bola" dengan mengundang organisasi-organisasi kepemudaan maupun mahasiswa secara resmi dan menjadwalkan proses diskusi- diskusi bersama perangkat pemerintahan yang ada.

Tentu proses ini perlu dilakukan dengan pembagian-pembagian isu yang konkrit sehingga pemuda yang terlibat dan menyampaikan pemikirannya untuk pembangunan juga memiliki persiapan data dan pengamatan yang cukup matang. Program ini diharapkan tidak hanya sebatas program yang terpublikasi di media sosial saja tapi juga harus memiliki dampak nyata mulai dari proses perencanaan programnya, implementasi dilapangan, hingga evaluasi dari program tersebut.

Selain itu, generasi muda tentunya bisa menjadi "mitra" terbaik dalam melakukan kerja- kerja yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat dan pemberdayaan, termasuk juga pada upaya digitalisasi dan komunikasi pemerintah sehingga problem- problem dimasyarakat dapat diserap secara maksimal dengan kolaborasi pemerintah dengan kepemudaan. Tentunya perwujudan istilah "Gotong-Royong" yang sudah menjadi budaya Indonesia sejak dahulu dalam melakukan pekerjaan dan perjuangan kenegaraan.

Kolaborasi lintas generasi termasuk juga tidak lupa kita menghargai jerih payah generasi tua yang cukup banyak memberikan contoh yang baik, dan diharapkan generasi muda dapat memaksimalkan contoh yang sudah dilakukan sebelumnya hingga membuat inovasi baru yang lebih efektif untuk pembangunan Indonesia kedepan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....