Dewan Tekankan Penanganan 4.267,51 hektare Karhutla dengan 12.106 hotspot di Jambi
- 07 Okt 2026 16:06 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi masih menjadi perhatian serius. Hingga Selasa 6 Oktober 2026 pukul 19.00 WIB, tercatat 12.106 hotspot sepanjang 2026 dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai sekitar 4.267,51 hektare. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena kualitas udara di sejumlah wilayah juga berada pada kategori berbahaya. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kabupaten Muaro Jambi bahkan mencapai angka 617 pada 6 Oktober 2026. Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata mendorong penanganan Karhutla diperkuat menjadi operasi terpadu.
Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman titik api, tetapi juga harus mencakup pengendalian asap, perlindungan kesehatan masyarakat, kawasan konservasi hingga pengawasan penggunaan anggaran dan peralatan.
“Penanganan Karhutla sekarang tidak cukup hanya melihat berapa hotspot dan berapa hektare yang terbakar. Kita juga harus melihat asap dan dampaknya terhadap masyarakat. Fire Response, Smoke Response dan Health Response harus berjalan dalam satu operasi,” tutur Ivan.
Berdasarkan Laporan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per 6 Oktober 2026, terdapat 144 hotspot pada periode pukul 00.00–16.00 WIB. Sementara itu, pada 5 Oktober 2026 tercatat 199 hotspot untuk periode penuh pukul 00.00–23.00 WIB. Dari 144 hotspot yang tercatat pada 6 Oktober, Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 84 titik atau sekitar 58,3 persen.
Selanjutnya Sarolangun dengan 36 hotspot, Batanghari dan Tanjung Jabung Barat masing-masing tujuh titik, Bungo lima titik, Muaro Jambi tiga titik, serta Merangin dua titik. Tanjung Jabung Timur dan Sarolangun secara bersama-sama menyumbang 120 hotspot atau sekitar 83,3 persen dari total hotspot periode 00.00–16.00 WIB.
Ivan menilai konsentrasi hotspot tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas penempatan personel dan peralatan, dengan tetap berdasarkan hasil verifikasi lapangan. “Sumber daya jangan semata-mata dibagi rata.
Penempatan harus mengikuti risiko aktual. Di mana hotspot terkonsentrasi, di mana fire spot membesar, di mana gambut sulit dipadamkan, di mana sumber air terbatas, dan di mana masyarakat paling terdampak, di situlah kekuatan operasi harus diperkuat,” katanya.
Dari sisi luas lahan terbakar, Kabupaten Batanghari masih menjadi wilayah dengan estimasi terbesar, yakni 1.306,81 hektare. Kemudian Tanjung Jabung Barat 666,45 hektare, Tanjung Jabung Timur 659,18 hektare, Muaro Jambi 608,71 hektare, Sarolangun 508,55 hektare dan Tebo 403,76 hektare.
Total estimasi luas terbakar meningkat dari sekitar 4.261,01 hektare pada 5 Oktober menjadi 4.267,51 hektare pada 6 Oktober atau bertambah sekitar 6,50 hektare.
Ivan mengingatkan perubahan estimasi tersebut tetap perlu diverifikasi melalui data burn scar dan pengecekan lapangan. Menurutnya, perubahan angka tidak serta-merta dapat disimpulkan seluruhnya sebagai kebakaran baru karena bisa berkaitan dengan perkembangan kebakaran maupun pembaruan pemetaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....