Memaknai Festival Moon Cake: Tradisi Kebersamaan dan Refleksi Nilai Dharma

  • 29 Sep 2026 12:54 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Perayaan Festival Moon Cake atau Kue Bulan yang menjadi tradisi tahunan masyarakat Tionghoa menyimpan makna mendalam tentang keharmonisan dan kebersamaan keluarga. Dalam tayangan Mimbar Agama Buddha, narasumber Saimala Depeni, S.Pd. (Sakya Vimala Devi) menjelaskan bahwa perayaan pertengahan musim gugur ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi serta merenungkan kembali nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari

Secara historis, Festival Moon Cake berawal dari tradisi persembahan dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang berlimpah pada musim gugur. Dalam perjalanan sejarahnya, kue bulan bahkan pernah menjadi simbol perjuangan dan solidaritas karena digunakan sebagai media penyampaian pesan tersembunyi.

Di era modern, tradisi ini dirayakan oleh komunitas Tionghoa di belahan dunia sebagai ajang kumpul keluarga dan saling berbagi kudapan berbentuk bulat yang melambangkan keutuhan. Meskipun sering dirayakan bersamaan dengan aktivitas keagamaan, Saimala menegaskan kedudukan festival ini dari sudut pandang Buddhis.

"Festival Moon Cake ini bukanlah hari raya keagamaan agama Buddha, melainkan tradisi budaya. Namun, di dalamnya terkandung nilai-nilai kebajikan seperti kebersamaan, rasa bersyukur, dan semangat berbagi yang sangat selaras dengan ajaran Dharma," katanya Senin, 28 Septermber 2026.

Ia menambahkan bahwa agama membina batin, sementara budaya merupakan perkembangan kehidupan bermasyarakat, sehingga keduanya dapat berinteraksi secara harmonis. Lebih lanjut, simbol bulan purnama dalam perayaan ini dimaknai sebagai sarana refleksi batin bagi setiap individu. Sama seperti bulan yang menerangi kegelapan malam, setiap orang diajak untuk menerangi batin sendiri dengan mengikis rasa benci, dendam, dan iri hati. Melalui praktik kemurahan hati (dana), cinta kasih (metta), serta rasa turut bahagia atas keberhasilan orang lain (mudita), kebahagiaan sejati dapat dirasakan tidak hanya saat menerima sesuatu, tetapi juga ketika memberi dengan tulus.

Perayaan ini juga menjadi pengingat pentingnya kesadaran penuh (sati) saat berkumpul bersama keluarga di tengah kesibukan era digital. Kehadiran fisik hendaknya disertai perhatian dan keterbukaan hati agar momen kebersamaan menjadi lebih bermakna. Selain itu, fenomena bentuk bulan yang terus berubah mengajarkan prinsip ketidakkekalan (anicca), sehingga manusia diajak untuk senantiasa tenang, bijaksana, serta saling memaafkan dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Penulis : Ayu Syahniza

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....