Krisis Air dan Medan Terjal Hambat Pemadaman Karhutla Tanjab Barat
- 24 Agt 2026 22:23 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Tim Satgas Karhutla Kabupaten Tanjung Jabung Barat menghadapi kendala berat saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang merebak di wilayah ulu. Medan perbukitan terjal serta terbatasnya sumber air menjadi faktor utama sulitnya mengendalikan kobaran api di lapangan.
Koordinator Pusat Informasi BPBD Tanjab Barat, Syaiful Anwar, mengungkapkan bahwa tim pemadam harus berjuang ekstra karena lokasi kebakaran di kawasan tanah mineral sulit dijangkau kendaraan roda empat.
“Kalau di daerah Batang Asam, Renah Mendaluh, khususnya wilayah ulu itu topografinya perbukitan, di lereng-lereng,” ujar Syaiful pada Senin, 24 Agustus 2026.
Syaiful menambahkan, pasokan air di lokasi kejadian sangat terbatas karena hanya mengandalkan Ujung Sungai Pengabuan. Kondisi ini membuat proses pemadaman darat membutuhkan waktu jauh lebih lama.
“Medan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan tidak ada ketersediaan air sebagai sumber pemadaman,” ungkapnya.
Sulitnya akses pemadaman ini berpotensi memperluas dampak kebakaran yang hingga 22 Agustus 2026 sudah membakar total 214,4 hektare lahan di Tanjab Barat. Kecamatan Batang Asam mencatatkan kerusakan terluas mencapai 125,7 hektare, diikuti Renah Mendaluh seluas 60,3 hektare. Sementara wilayah berpotensi karhutla lahan gambut terkonsentrasi di Betara, Bram Itam, dan Senyerang.
Mencegah situasi bertambah parah di tengah ancaman kemarau panjang, pihak BPBD menegaskan larangan keras aktivitas pembakaran lahan oleh warga.
“Di saat El Nino panjang atau puncak musim kekeringan ini, diminta kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan atau membersihkan lahan dengan cara membakar,” kata Syaiful menekankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....