Waspada Kemarau yang bisa Mengancam Sawah di Jambi

  • 20 Agt 2026 10:44 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Musim kemarau kembali menjadi perhatian bagi sektor pertanian di Provinsi Jambi. Berkurangnya curah hujan membuat ketersediaan air di sejumlah kawasan persawahan menurun, terutama pada lahan yang masih bergantung pada hujan maupun sumber air yang terbatas. Kondisi ini berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman padi dan meningkatkan risiko penurunan hasil panen. Pada Juli 2026, Kabupaten Batang Hari bahkan memetakan sekitar 1.883 hektare sawah yang masuk kategori rawan kekeringan.

Dampak kemarau tidak hanya terlihat dari berkurangnya pasokan air, tetapi juga pada kondisi tanah. Ketika sawah kehilangan kelembapan dalam waktu cukup lama, permukaan tanah dapat mengeras dan mengalami retakan sehingga menyulitkan tanaman mendapatkan air yang cukup. Pengalaman di Batang Hari pada musim kemarau sebelumnya menunjukkan bahwa kekeringan dapat meluas dari kategori ringan hingga berat dan pada kondisi tertentu berujung pada puso atau gagal panen.

Situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi petani karena tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang relatif stabil, terutama pada fase pertumbuhan tertentu. Kekurangan air dapat membuat pertumbuhan tanaman terganggu dan pada akhirnya menurunkan produktivitas. Jika kekeringan berlangsung lebih panjang, risiko gagal panen juga semakin besar, sekaligus berpotensi mengurangi pendapatan petani dan pasokan beras di tingkat daerah.

Namun, dampak kemarau tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Jambi. Kabupaten Tanjung Jabung Timur, misalnya, pada awal Agustus 2026 memastikan 3.771 hektare tanaman padi masih aman dari ancaman kekeringan. Ketersediaan saluran air serta dukungan 275 pompa yang disiapkan untuk kelompok tani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pasokan air ke lahan pertanian.

Langkah antisipasi seperti pompanisasi, pemanfaatan embung, optimalisasi jaringan irigasi, hingga pemetaan wilayah rawan kekeringan menjadi semakin penting. Pemerintah Kabupaten Batang Hari juga meminta pompa yang telah disalurkan kepada kelompok tani dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, petani didorong untuk terus berkoordinasi dengan penyuluh agar persoalan kekurangan air dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi gagal panen.

Kemarau pada akhirnya bukan sekadar persoalan cuaca, tetapi juga menjadi ujian bagi ketahanan pangan Jambi. Kemampuan menjaga sumber air, memperkuat infrastruktur irigasi, serta memastikan bantuan benar-benar sampai dan digunakan petani akan menentukan seberapa besar dampak kekeringan terhadap produksi padi. Dengan antisipasi yang lebih cepat dan koordinasi antara pemerintah, kelompok tani, serta penyuluh, risiko kerugian akibat kemarau dapat ditekan dan produktivitas sawah tetap dipertahankan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....