Perubahan Iklim Sudah Nyata, Masyarakat Harus Tingkatkan Literasi dan Adaptasi

  • 30 Jun 2026 17:15 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan literasi dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim yang kini semakin nyata dirasakan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat cuaca ekstrem, sekaligus meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan pola iklim.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Thaha Jambi, Ibnu Sulistyono, mengatakan perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang terhadap pola cuaca dan suhu rata-rata di permukaan bumi yang dampaknya kini dirasakan hampir di seluruh wilayah, termasuk Indonesia.

"Perubahan iklim sudah nyata. Saat ini masih banyak masyarakat, terutama di negara berkembang, yang belum memiliki literasi maupun akses terhadap sistem peringatan dini terkait dampak iklim dan cuaca ekstrem. Padahal mereka sangat rentan terhadap risiko yang ditimbulkan," kata Ibnu Sulistyono, Selasa, 30 Juni 2026.

Ia menjelaskan, secara global dunia masih menghadapi tantangan besar dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim. Karena itu, diperlukan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga meteorologi, akademisi, pelaku usaha hingga masyarakat untuk bersama-sama mengatasi krisis iklim. "Kalau tidak mulai sekarang, peluang kita untuk menghadapi perubahan iklim akan semakin sempit, terutama bagi negara-negara yang rentan seperti Indonesia," ujarnya.

Sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat, BMKG terus mengembangkan berbagai program literasi dan edukasi, di antaranya melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI) bagi petani dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) bagi masyarakat pesisir dan nelayan.Menurut Ibnu, kedua program tersebut bertujuan membekali peserta dengan kemampuan membaca informasi cuaca dan iklim sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

"Tujuan utamanya adalah membangun kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Nelayan diajarkan memahami informasi cuaca maritim agar dapat mengurangi risiko kecelakaan di laut, sementara petani dibimbing memanfaatkan informasi iklim dalam menentukan pola tanam," jelasnya.

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung menggunakan aplikasi Info BMKG untuk mengakses prakiraan cuaca, arah dan kecepatan angin, tinggi gelombang, hingga potensi cuaca ekstrem.

"Peserta kami ajarkan cara membaca informasi cuaca dengan benar melalui aplikasi. Jangan sampai salah mengartikan data karena informasi tersebut menjadi dasar dalam mengambil keputusan sebelum bekerja," katanya.

Ia menambahkan, literasi iklim juga berperan penting dalam menjaga produktivitas sektor perikanan dan pertanian yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Kemampuan beradaptasi dinilai dapat membantu masyarakat mengurangi kerugian sekaligus menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Selain memberikan pelatihan, BMKG juga melakukan pendampingan berkelanjutan melalui grup informasi yang menjadi wadah penyampaian prakiraan cuaca dan edukasi kepada peserta setelah kegiatan sekolah lapang selesai.

Di akhir wawancara, Ibnu mengajak masyarakat untuk semakin peduli terhadap isu perubahan iklim dengan memanfaatkan informasi cuaca yang disediakan BMKG serta menerapkan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

"Kita harus mulai mengendalikan perubahan iklim, antara lain dengan mengurangi emisi, menghemat penggunaan air, mendukung pembangunan yang memperhatikan aspek iklim, serta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana. BMKG terus menyediakan informasi cuaca dan iklim yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah, akademisi, pelaku usaha, maupun masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....