Angka Stunting Fluktuatif Batang Hari Siasati Efisiensi Anggaran

  • 02 Jun 2026 22:54 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi : Grafik kasus stunting di Kabupaten Batang Hari yang bergerak fluktuatif dan tidak menentu dalam lima tahun terakhir memicu perhatian serius. Guna menyiasati tantangan tersebut di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah, Pemerintah Kabupaten Batang Hari kini memperketat strategi lewat kolaborasi lintas sektor,

Langkah taktis ini diambil agar pemangkasan anggaran tidak mengendurkan intervensi kesehatan di lapangan. Pemkab memilih mengoptimalkan peran Tim Percepatan Penurunan Stunting (TP3S) hingga tingkat desa dan menyatukan langkah dengan program strategis nasional.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Batang Hari, A Kurniadi, membenarkan bahwa keterbatasan dana mengharuskan daerah memutar otak agar program pemulihan gizi anak tidak mandek.

"Di tengah keterbatasan dan isu efisiensi anggaran, pemerintah daerah tetap berupaya menjalankan intervensi penanganan stunting secara optimal melalui kolaborasi lintas sektor," ungkap Kurniadi, Selasa 2 Juni 2026.

Jurus jitu yang kini disiapkan Pemkab Batang Hari adalah mengawinkan program penanganan stunting lokal dengan payung program pusat, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sinergi ini diharapkan menjadi bantalan penahan beban anggaran daerah sekaligus memperkuat asupan gizi langsung bagi kelompok balita rentan.

Selain itu, pengawasan di akar rumput diperketat dengan mendorong TP3S merangkul tokoh-tokoh masyarakat di pedesaan agar tepat sasaran.

"TP3S kita dorong sampai tingkat desa agar intervensi lebih dekat dengan masyarakat dan pengawasan lebih efektif," jelasnya.

Layanan posyandu juga digenjot habis-habisan dengan target ambisius mampu menjangkau lebih dari 99 persen balita. Menurut Kurniadi, garis pertahanan stunting kini digeser lebih maju, yakni tidak hanya berfokus pada balita yang sudah lahir melainkan sejak janin masih dalam kandungan.

"Intervensi tidak hanya pada balita, tetapi juga dimulai dari ibu hamil sebagai upaya pencegahan sejak awal," tambah Kurniadi.

Kekhawatiran daerah terhadap potensi lonjakan kasus bukan tanpa alasan jika melihat rekam jejak data lima tahun ke belakang. Prevalensi stunting di Bumi Serentak Bak Regam tercatat sangat fluktuatif. Pada 2021 angka stunting berada di 24,5 persen, kemudian sempat merangkak naik ke 26,6 persen pada 2022.

Sempat terjun bebas secara signifikan ke angka 10,1 persen pada 2023, angka tersebut justru kembali melesat naik menjadi 18,4 persen pada 2024. Sementara pada tahun 2025, hasil pengukuran daerah lewat Gebyar Orang Tua dan Anak mengeklaim posisi stunting melandai ke level 6,54 persen.

Kurniadi memaparkan, klaim penurunan drastis ke 6,54 persen itu diperoleh dari hasil pengukuran langsung terhadap lebih dari 90 persen balita di Batang Hari. Kendati grafiknya saat ini tampak hijau, daerah memilih bersikap realistis dan enggan buru-buru jemawa.

"Data ini merupakan hasil pengukuran daerah, sementara kami tetap menunggu data resmi pemerintah pusat sebagai pembanding," pungkas Kurniadi menutup keterangannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....