Masyarakat Jambi Diimbau Waspada TBC dan Kenali Gejala sejak Dini

  • 21 Mei 2026 09:31 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Masyarakat Provinsi Jambi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penularan Tuberkulosis (TBC). Penyakit yang menyerang saluran pernapasan ini masih menjadi tantangan besar di sektor kesehatan masyarakat karena sifat penularannya yang cepat namun sering kali tidak disadari.

Koordinator Program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) AIDS, Tuberculosis, and Malaria (ATM) Asosiasi Dinas Kesehatan (Adinkes) Wilayah Provinsi Jambi, Didik Sunaryadi, menegaskan bahwa kewaspadaan masyarakat harus dimulai dengan memutus stigma keliru mengenai penyakit ini.

"Masyarakat harus paham bahwa TBC bukan penyakit kutukan atau penyakit keturunan, melainkan infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri. Bahaya terbesar muncul ketika seseorang tidak sadar dirinya tertular, lalu tanpa sengaja menularkannya kepada keluarga atau orang-orang terdekat di sekitarnya," ujar Didik, Rabu 20 Mei 2026.

Jangan Abaikan Gejala, Segera Periksa ke Puskesmas

Sebagai langkah kewaspadaan, Adinkes Jambi meminta masyarakat untuk tidak meremehkan gangguan kesehatan pada paru-paru. Ada beberapa gejala klinis awal TBC yang wajib diwaspadai dan segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan, antara lain:

Batuk berdahak secara terus-menerus yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih.

Mengalami demam meriang yang berkepanjangan.

Penurunan berat badan secara drastis disertai hilangnya nafsu makan.

Keluar keringat berlebih pada malam hari, meskipun sedang tidak melakukan aktivitas fisik.

Didik menjamin bahwa akses pengobatan TBC saat ini sudah sangat mudah dan terjangkau bagi masyarakat luas.

"Semua Puskesmas di wilayah Provinsi Jambi saat ini sudah dilengkapi dengan sarana diagnosis modern dan obat-obatan TBC yang disediakan oleh pemerintah secara gratis. Jadi, jika ada gejala, jangan takut atau ragu untuk segera berobat," tambahnya.

Waspada Ancaman TBC Resistan Obat (TBC-RO)

Lebih lanjut, Didik mengingatkan bahwa ketidakwaspadaan dalam menuntaskan pengobatan TBC biasa dapat memicu ancaman yang jauh lebih fatal, yaitu TBC Resistan Obat (TBC-RO). Kondisi ini terjadi ketika bakteri di dalam tubuh pasien menjadi kebal terhadap obat-obatan standar akibat mengonsumsi obat yang tidak teratur atau terputus di tengah jalan.

Jika TBC biasa umumnya membutuhkan waktu penyembuhan selama 6 bulan, pasien yang sudah terkena TBC-RO harus menjalani masa pengobatan yang jauh lebih kompleks hingga hitungan tahun dengan efek samping yang lebih berat.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menerapkan prinsip TOSS TBC (Temukan TBC, Obati Sampai Sembuh) di lingkungan masing-masing.

"Target eliminasi TBC tidak akan tercapai tanpa kepedulian kita bersama. Jika ada anggota keluarga atau tetangga yang batuk lama, segera antarkan ke Puskesmas. Saling menjaga dan mengingatkan adalah kunci melindungi Jambi dari bahaya TBC," pungkas Didik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....