Orang Rimba Dilibatkan dalam Penanganan Karhutla

  • 28 Apr 2026 23:09 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Perubahan iklim kini menghadirkan ironi yang nyata di depan mata: di saat sebagian wilayah masih bergelut dengan banjir bandang akibat curah hujan ekstrem, di sisi lain kebakaran hutan dan lahan mulai mengintai. Di tengah pusaran anomali cuaca inilah kelompok rentan menjadi pihak yang paling terancam, tak terkecuali Masyarakat Adat Orang Rimba. Masyarakat Adat Orang Rimba merupakan komunitas yang tinggal di dalam dan sekitar hutan di Provinsi Jambi. Dengan pola hidup semi nomaden yakni berpindah tempat sementara mengikuti sumber penghidupan, menjadikan mereka kelompok yang paling rawan terhadap bencana.

Bagi Orang Rimba yang hidup di dalam hutan, rimba bukan sekadar ruang hidup, melainkan rumah sekaligus sumber utama pangan dan penghidupan. Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius yang terus menghantui. Karhutla tidak hanya merusak ekosistem dan memusnahkan satwa buruan, tetapi juga menghilangkan tanaman buah yang menjadi penopang kehidupan mereka, serta memicu berbagai dampak lanjutan, termasuk gangguan kesehatan. Karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan perlu melibatkan masyarakat, terutama Orang Rimba yang hidup di wilayah-wilayah rawan, sebagai bagian penting dari respons terhadap perubahan iklim.

Di tengah ancaman iklim yang kian ekstrem, perlindungan terhadap kelompok rentan menjadi hal yang mendesak untuk diutamakan. Menyadari hal tersebut, peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional yang diselenggarakan setiap 26 April menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran, kesiapsiagaan, dan kewaspadaan bencana di seluruh lapisan masyarakat.

Khususnya di Provinsi Jambi, peringatan tahun ini dilakukan dengan melibatkan banyak pihak termasuk Orang Rimba. Mengusung tema nasional "Siap untuk Selamat", KKI Warsi bersama Forum Pengurangan Risiko Bencana (F-PRB) Provinsi Jambi menggelar simulasi pencegahan dan penanganan karhutla.

Kegiatan yang dipusatkan di kantor BPBD Provinsi Jambi, Minggu 26 April 2026 ini diawali dengan apel bersama yang dipimpin oleh Kabid Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jambi, Ismael. "Hari Kesiapsiagaan Bencana ini sekaligus untuk mempersiapkan kemarau panjang berdasarkan prediksi BMKG yang akan terjadi sepanjang bulan Mei hingga November 2026," kata Ismael pada apel pembukaan kegiatan.

Peringatan HKB 2026 ini turut disemarakkan oleh berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam F-PRB Provinsi Jambi, di antaranya TNI-Polri, Manggala Agni, Basarnas, PMI, RAPI, hingga UKM Go-Green Universitas Jambi. Partisipasi lintas sektor ini mengedepankan asas kesetiakawanan, kegotongroyongan, dan kedermawanan guna memperkuat kesiapsiagaan menuju ketangguhan masyarakat.

Kegiatan inti dari peringatan ini adalah simulasi pencegahan dan penanganan karhutla. Sebanyak 15 orang masyarakat adat Orang Rimba yang berasal dari Kabupaten Batanghari dan Sarolangun didaulat menjadi aktor utama dalam simulasi ini. Mereka dipilih karena hidup berdekatan dan bersinggungan langsung dengan lahan kehutanan yang sangat rentan terhadap kebakaran, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin meningkatkan potensi terjadinya karhutla.

Sementara itu, sehari sebelumnya, Kabupaten Sarolangun dilanda banjir dari meluapnya Sungai Batang Asai dan Batang Tembesi. Hujan deras yang mengguyur Sarolangun sejak Sabtu petang hingga Minggu pagi menyebabkan beberapa desa di Kecamatan Batang Asai, Cermin Nang Gedang, dan Bathin VIII terendam banjir.

Fakta lapangan yang kontras ini, terjadinya banjir bandang sementara persiapan krusial menghadapi karhutla tengah dilakukan menegaskan betapa anomali cuaca berubah menjadi krisis iklim. "Krisis iklim kini bukan lagi sekadar isu lingkungan sektoral, melainkan isu kepentingan publik yang mendesak karena mengancam keselamatan hidup masyarakat luas. Terlebih, BMKG melalui rilisnya telah memprediksikan bahwa El Nino akan membuat musim kemarau di beberapa wilayah di Indonesia lebih kering dan panjang daripada tahun sebelumnya," ucap Jauharul Maknun Project Officer KKI Warsi yang turut hadir dalam kegiatan ini.

Dikatakannya, kebakaran hutan dan lahan berdampak terhadap semua lini kehidupan masyarakat, tidak hanya masyarakat adat. Berbagai sektor dari kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi akan terhambat.

Saat ini, ruang hidup Orang Rimba semakin terhimpit dan banyak yang berbatasan langsung dengan area konsesi perusahaan, perkebunan, atau area terbuka kering yang rawan terkena kebakaran. Kebakaran sering kali bukan berasal dari dalam, melainkan merambat dari luar ke dalam wilayah jelajah mereka. Menggantungkan hidup sepenuhnya dari hutan inilah yang membuat masyarakat adat Orang Rimba menjadi rentan.

Pelatihan penanganan kebakaran hutan dan lahan bagi masyarakat adat Orang Rimba sangat krusial. Hal ini tidak hanya semata-mata untuk menjaga ekosistem gambut atau tutupan tajuk, tetapi secara langsung berkaitan dengan perlindungan hak dan kelangsungan hidup mereka.

Orang Rimba yang bermukim dan beraktivitas di hutan menjadi pihak pertama yang paling cepat mendeteksi titik api sebelum membesar, terutama di lanskap Taman Nasional Bukit Tigapuluh maupun Bukit Duabelas. "Dengan bekal teknis penanganan yang tepat, mereka dapat bertindak sebagai responden darurat pertama yang efektif," ujar Maknun.

Dikatakan, Orang Rimba sejatinya memiliki kearifan lokal yang kuat dalam membaca tanda alam dan menghormati hutan. Namun, anomali iklim yang ekstrem dan kondisi lahan yang mudah terbakar membuat cara-cara tradisional harus diperkaya dengan pengetahuan yang lebih relevan dengan situasi ruang Orang Rimba hari ini. "Pelatihan penanganan karhutla membantu menyinergikan pengetahuan lokal tersebut dengan pemahaman tentang penanganan dasar karhutla serta sistem pelaporan dini kepada pihak terkait," kata Maknun

Simulasi penanganan karhutla ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai penyebab terjadinya kebakaran, tetapi juga praktik langsung proses penanganan yang didampingi oleh unsur ahli dari Basarnas, Manggala Agni, serta TNI-POLRI.

Selain kemampuan teknis di lapangan, masyarakat adat Orang Rimba juga dilatih mengenai alur pelaporan kepada pihak berwenang. Unsur terkait seperti BPBD dan Manggala Agni menegaskan bahwa mereka selalu siap dan terbuka menerima segala aduan dari masyarakat terkait kejadian karhutla di wilayah Provinsi Jambi.

Lebih lanjut, simulasi ini juga menyisipkan skenario penanganan darurat apabila terdapat petugas atau warga yang mengalami cedera di lapangan. Tim Palang Merah Indonesia sebagai petugas medis mempraktikkan langkah-langkah pertolongan pertama tersebut dengan tanggap dan sigap, sesuai dengan prosedur penanganan kesehatan standar.

Secara keseluruhan, rangkaian edukasi, sosialisasi, dan gladi lapang ini diharapkan dapat mendorong sinergi semua pihak. Edukasi dan partisipasi aktif yang menyentuh hingga ke kelompok rentan ini sangat penting untuk mewujudkan target Keluarga Tangguh Bencana Indonesia, khususnya di Provinsi Jambi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....