Kemarau Dini Picu Ancaman Krisis Air dan Karhutla di Jambi

  • 28 Mar 2026 15:40 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Prediksi musim kemarau yang datang lebih awal oleh BMKG memicu kekhawatiran akan munculnya ancaman ganda di Provinsi Jambi, yakni krisis air di wilayah hulu dan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah hilir. Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, mengatakan gejala awal sudah mulai terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Di bagian hulu, sejumlah sumber air mulai mengalami penurunan debit, termasuk Sungai Batang Kerinci yang terindikasi mengering.

“Di hulu mulai kering, sementara di hilir, terutama di kawasan gambut, potensi kebakaran semakin meningkat. Ini menjadi kombinasi yang berbahaya,” ujarnya, Sabtu 28 Maret 2026. Menurut Adi, kondisi tersebut bukan sekadar fenomena musiman, melainkan berkaitan erat dengan melemahnya perlindungan terhadap ekosistem hutan dan daerah aliran sungai (DAS). Ia menilai krisis air dan kebakaran merupakan dua gejala dari persoalan yang sama. “Ini dua tanda dari satu masalah, yakni melemahnya daya dukung lingkungan akibat kerusakan hutan,” katanya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa potensi karhutla mulai terdeteksi sejak awal tahun. Berdasarkan analisis KKI Warsi, titik panas sudah muncul sejak Januari hingga awal Maret 2026 di berbagai wilayah, baik di kawasan hutan produksi, hutan lindung, taman nasional, maupun area penggunaan lain (APL).

Adi mengingatkan, jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya, maka risiko kebakaran besar seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya bisa kembali terulang. “Kalau kemarau ini semakin panjang, maka potensi kebakaran hutan akan semakin meluas. Ini yang harus kita waspadai sejak dini,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa dampak karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Mulai dari gangguan kesehatan akibat asap, kerugian ekonomi, hingga peningkatan emisi karbon yang memperparah perubahan iklim.

“Penanganan kebakaran tidak bisa hanya fokus pada pemadaman api. Ini persoalan yang lebih besar karena berdampak pada kesehatan, sosial, ekonomi, dan juga mempercepat krisis iklim,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Adi mengajak semua pihak untuk memperkuat upaya pencegahan dengan menjaga ekosistem hutan yang tersisa. Ia menyebut, kondisi hutan alam saat ini semakin terbatas dan harus dijaga sebagai penopang utama sistem kehidupan. “Menjaga hutan berarti menjaga air. Menjaga air berarti menjaga kehidupan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal masa depan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....