Psikolog Nilai Konflik Guru Siswa Dipicu Emosi

  • 29 Jan 2026 08:23 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Kasus pengeroyokan terhadap seorang guru di SMK Negeri 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, menjadi sorotan luas hingga tingkat nasional. Peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah tersebut dengan cepat menyebar dan menuai beragam tanggapan publik.

Psikolog Jambi, Ridwan, menilai insiden itu terjadi karena kedua belah pihak gagal menempatkan diri sesuai peran masing-masing. Menurutnya, guru dinilai keliru karena merespons persoalan dengan cara yang terlalu agresif, sementara siswa juga melakukan kesalahan karena tidak menunjukkan sikap hormat kepada guru.

“Masalahnya karena masing-masing tidak menempatkan posisinya. Guru seharusnya menghargai siswa, dan siswa wajib menghormati guru. Di sini titik temunya tidak terjadi,” ujar Ridwan, Jumat, 16 Januari 2026.

Ridwan menjelaskan, konflik tersebut kemungkinan besar dipicu oleh kondisi psikologis kedua pihak yang sama-sama mudah frustrasi. Situasi itu memicu munculnya sikap agresif, mudah marah, serta sensitivitas berlebihan terhadap masalah yang terjadi.

Ia menilai, apabila sejak awal dilakukan mediasi yang cepat dan tepat, peristiwa tersebut tidak akan berujung pada tindakan kekerasan. “Kalau mediasi berjalan sejak awal, tidak akan sampai terjadi pemukulan,” tegasnya.

Menurut Ridwan, proses mediasi seharusnya dilakukan oleh pihak sekolah yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik, memahami karakter siswa, serta dihormati oleh guru dan peserta didik. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak berjalan sebagaimana mestinya. “Inilah yang terjadi ketika mediasi tidak berjalan dengan baik,” katanya.

Ridwan menegaskan, konflik guru dan siswa merupakan peristiwa timbal balik yang melibatkan dua sisi. Meski demikian, ia menekankan bahwa dalam dunia pendidikan tidak boleh ada pembenaran terhadap kekerasan, baik yang dilakukan guru maupun siswa.

“Guru harus memberi contoh, siswa harus menghormati guru. Itu prinsip dasar,” ujarnya.

Ia juga menilai seharusnya terbangun kedekatan emosional antara guru dan siswa di lingkungan sekolah, bukan justru permusuhan. Ketika emosi mendominasi, lanjut Ridwan, bukan tidak mungkin muncul provokator yang memperbesar konflik.

“Dalam kasus ini ada pihak yang merasa dihina dan ada yang merasa terhina. Di situlah muncul persoalan psikologis antara guru dan siswa,” jelasnya.

Ridwan mengingatkan, jika konflik semacam ini tidak segera diselesaikan, dampaknya bisa meluas dan berpotensi ditiru di tempat lain. “Ini berbahaya. Semua orang punya emosi, tapi jangan sampai peristiwa seperti ini dijadikan pembenaran,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan tantangan guru saat ini tidak hanya terbatas pada kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan komunikasi dan pemahaman psikologi anak, khususnya remaja. Menurutnya, norma hubungan guru dan siswa kini telah banyak berubah dibandingkan masa lalu.

“Dulu anak-anak lebih paham tata krama. Sekarang norma itu sudah banyak bergeser,” ujarnya.

Ridwan menambahkan, praktik kekerasan dengan dalih pendidikan yang dulu dianggap wajar kini sudah tidak dapat diterima. Karena itu, pendekatan yang tepat sangat dibutuhkan mengingat emosi remaja cenderung mudah bergejolak.

Selain lingkungan sekolah, Ridwan juga menilai peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Pengawasan terhadap penggunaan telepon genggam, paparnya, menjadi faktor krusial karena arus informasi saat ini sangat mudah memicu provokasi.

“Kalau bertemu langsung masih ada ruang diskusi. Tapi lewat HP, orang lebih mudah terprovokasi,” jelasnya.

Ia juga menyoroti banyaknya konten dan permainan digital bernuansa kekerasan yang dinilai dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak. “Semua itu berpengaruh pada tumbuh kembang anak, terutama kondisi psikologisnya,” pungkas Ridwan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....