Dokter : Nyeri Perut Berulang Jangan abaikan Waspadai Penyakit Serius

  • 26 Jul 2026 14:55 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID,Jambi - Nyeri perut yang datang berulang kerap dianggap masyarakat sebagai gejala masuk angin. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya penyakit serius yang memerlukan penanganan medis segera, seperti batu empedu maupun radang usus buntu.

Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Bedah Siloam Hospitals Jambi, dr. Jonathan Alvin Nugraha Halim, dalam sesi edukasi kesehatan pada kegiatan Media Gathering Siloam Hospitals Jambi, Sabtu 25 Juli 2026.

Menurut dr. Alvin, sebagai dokter bedah dirinya hampir setiap hari menerima pasien dengan keluhan nyeri perut yang sebelumnya hanya dianggap sebagai masuk angin.

"Pasien yang datang rata-rata mengatakan awalnya hanya dikira masuk angin. Padahal spektrum nyeri perut sangat luas, mulai dari keluhan ringan yang dapat membaik sendiri hingga kondisi berat yang membutuhkan tindakan operasi," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa secara umum organ di dalam rongga perut terbagi menjadi bagian atas dan bawah. Masing-masing memiliki organ vital yang dapat menjadi sumber nyeri, sehingga lokasi nyeri dapat membantu dokter menentukan penyebab penyakit.

Dalam paparannya, dr. Alvin menyoroti dua penyakit yang paling sering ditemui, yakni batu empedu dan radang usus buntu. Kedua penyakit tersebut, menurutnya, sering kali baru ditangani ketika kondisinya sudah cukup berat karena pasien terlambat mencari pertolongan medis.

"Banyak pasien datang sudah dalam kondisi terlambat karena takut menjalani operasi. Akibatnya penyakit berkembang menjadi lebih berat dan penanganannya menjadi lebih sulit," katanya.

Batu Empedu Dipengaruhi Empat Faktor Risiko

Dr. Alvin menjelaskan, kantong empedu berfungsi menyimpan cairan empedu yang diproduksi hati untuk membantu mencerna lemak sekaligus membuang kolesterol dari tubuh. Ketika kadar kolesterol terlalu tinggi, endapan dapat terbentuk dan berkembang menjadi batu empedu.

Ia menyebut terdapat empat faktor risiko utama yang dikenal dengan istilah 4F, yaitu fat (kelebihan berat badan atau sindrom metabolik), female (perempuan), forty (usia di atas 40 tahun), dan fertile (dipengaruhi hormon pada perempuan).

"Bahkan secara statistik, satu dari lima perempuan berpotensi mengalami batu empedu selama hidupnya, meskipun tidak semuanya menimbulkan gejala," jelasnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga berat badan ideal, mengontrol kadar kolesterol, serta menerapkan pola makan sehat sebagai langkah pencegahan.

Radang Usus Buntu Banyak Menyerang Usia Muda

Selain batu empedu, dr. Alvin juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala radang usus buntu. Penyakit ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia 10 hingga 30 tahun, meski dapat terjadi pada semua kelompok usia.

Menurutnya, secara global risiko seseorang mengalami radang usus buntu selama hidup cukup tinggi, yakni sekitar satu dari lima orang.

"Artinya, penyakit ini cukup sering terjadi. Karena itu masyarakat perlu mengenali gejalanya agar tidak terlambat mendapatkan penanganan," ujarnya.

Kenali Tanda Bahaya Nyeri Perut

Dr. Alvin menegaskan terdapat sejumlah tanda bahaya yang mengharuskan seseorang segera memeriksakan diri ke rumah sakit, antara lain nyeri perut yang sangat hebat hingga membuat penderita sulit bergerak, muntah berulang, muntah darah, buang air besar berdarah, demam tinggi, hingga perut terasa sangat keras.

"Kalau nyeri sudah sangat hebat sampai tidak bisa bergerak atau disertai muntah hebat dan perdarahan, jangan ditunda lagi. Segera datang ke rumah sakit agar dapat diperiksa," tegasnya.

Operasi Kini Lebih Modern dan Minim Luka

Ia juga meluruskan anggapan masyarakat yang masih takut menjalani operasi. Menurutnya, perkembangan teknologi bedah saat ini memungkinkan banyak tindakan dilakukan dengan metode laparoskopi atau bedah minimal invasif.

Di Siloam Hospitals Jambi, tindakan tersebut dilakukan menggunakan kamera dan peralatan khusus yang dimasukkan melalui sayatan kecil pada dinding perut.

"Keuntungannya, luka operasi menjadi jauh lebih kecil, nyeri pascaoperasi lebih ringan, proses pemulihan lebih cepat, pasien dapat kembali beraktivitas lebih awal, dan risiko infeksi juga lebih rendah dibandingkan operasi konvensional," jelasnya.

Menutup pemaparannya, dr. Alvin mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan nyeri perut yang datang berulang.

"Nyeri perut adalah sinyal dari tubuh. Jangan diabaikan sampai datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah berat. Semakin cepat diperiksa, semakin besar peluang penyakit ditangani dengan baik dan komplikasi dapat dicegah," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....