Berangkat Haji dan Umroh Jemaah Harus Sehat
- 08 Des 2025 19:12 WIB
- Jambi
KBRN, Jambi : Di balik kekhidmatan ibadah Haji dan umroh, ada ancaman kesehatan serius yang sering luput dari perhatian. Banyak jemaah berangkat dalam kondisi tidak fit. Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI), Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, SpKFR, MARS, AIFO-K, mengatakan, jangan sampai kondisi tidak mengenakkan ini malah memunculkan fenomena 'zombi' di tanah suci.
Bagaimana juga, Syarief menegaskan bahwa haji dan umroh adalah ibadah fisik yang menuntut stamina kuat. "Kita jangan sampai membawa 'zombi-zombi' ke Arab Saudi. Artinya, jemaah yang tidak fit, tidak siap secara fisik, lalu sampai di sana langsung sakit atau bahkan meninggal," ujarnya.
Fenomena ini selaras dengan tingginya angka kesakitan dan kematian jemaah Indonesia yang beberapa tahun terakhir menjadi perhatian serius pemerintah Arab Saudi.
Data Kementerian Agama per Juni 2025 mencatat bahwa setiap tahun terdapat jutaan jemaah haji dan umroh. Pada musim haji 2025, lebih dari 22 persen jemaah haji (sekitar 44 ribu orang) termasuk kategori lanjut usia.
Mayoritas dari mereka juga memiliki riwayat penyakit komorbid, dan tahun ini terjadi peningkatan jumlah jemaah yang membawa sepuluh komorbid terbanyak. Kelompok ini merupakan kelompok paling rentan.
"Di hotel pun banyak yang meninggal, bukan karena aktivitas, tapi karena penyakit yang dibawa dari tanah air," tambahnya.
| Baca juga: Jemaah Haji Kloter BTH 13 Tiba di Jambi |
Selain haji, arus umroh juga terus membludak. Indonesia mengirimkan sekitar 3 juta jemaah umroh per tahun, atau 150.000–200.000 orang setiap bulan.
Aktivitas yang berlangsung tanpa henti ini meningkatkan risiko penyebaran penyakit infeksi, mengingat jutaan orang dari ratusan negara berkumpul di satu tempat yang sama. Banyak sekali infeksi penularan karena begitu banyak orang berkumpul dan membawa virus dari berbagai negara.
Faktor lingkungan turut memperberat risiko. Suhu tinggi, kelembapan ekstrem, kontak erat, polusi udara, hingga kelelahan fisik membuat potensi penularan penyakit semakin besar, termasuk penyakit meningokokus invasif.
"Risiko semakin tinggi karena terdapat jutaan jemaah dari ratusan negara… termasuk dari wilayah sub-Sahara Afrika yang termasuk kawasan meningitis belt," ujar Syarief.
Kondisi tersebut membuat pemerintah Arab Saudi sempat mengeluarkan teguran diplomatik kepada Indonesia karena banyaknya jemaah yang terbang tanpa memenuhi istiṭho’ah kesehatan, yaitu kemampuan fisik untuk menjalankan ibadah.
Selain penyakit bawaan, kelelahan ekstrem menjadi risiko lain yang sering terjadi. Banyak jemaah langsung melakukan aktivitas berat setelah perjalanan panjang hampir 10 jam. Jalan kaki enam hingga delapan kilometer per hari adalah hal biasa selama musim haji. Tanpa kondisi fisik yang prima, risiko dehidrasi, kolaps, hingga kematian akan meningkat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....