Sensus Ekonomi 2026, Menyasar Unit Usaha tanpa Terkecuali
- 19 Feb 2026 13:10 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID,Jambi - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mulai melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 pada 1 Mei hingga 31 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda sensus nasional yang telah diatur dalam Undang-Undang Statistik.
Statistisi Ahli Madya BPS provinsi Jambi Susi Kristiarini menjelaskan bahwa pelaksanaan sensus ekonomi memiliki siklus tetap setiap sepuluh tahun.
“Sebagai amanat Undang-Undang Statistik Nomor 1997 bahwa tahun yang berakhiran 6 kita melaksanakan sensus ekonomi. Jadi ada 3 sensus yang dilaksanakan, tahun berakhiran 0 adalah sensus penduduk, tahun berakhiran 3 adalah sensus pertanian, dan tahun yang berakhiran 6 adalah sensus ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, persiapan sensus sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Memasuki 2026, BPS telah memulai tahapan sosialisasi dan akan dilanjutkan dengan pelatihan petugas lapangan.
“Nah, di 2026 ini kita telah mulai melaksanakan dengan sosialisasi dan nanti ada pelatihan petugas dan lain sebagainya. Kemudian untuk pelaksananya sendiri kita akan mulai di bulan Mei, jadi 1 Mei sampai dengan 31 Juli 2026,” jelasnya.
Terkait jumlah petugas yang akan dilibatkan, Susi menyebut pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut. “Kita masih menunggu arahan dari pusat untuk jumlah petugas dan lain sebagainya,” katanya.
Lebih lanjut disampaikan, dalam Sensus Ekonomi 2026, BPS akan mendata seluruh unit usaha tanpa terkecuali, mulai dari perusahaan besar hingga usaha rumahan.
“Nanti yang didata adalah semua usaha, baik itu usaha yang besar, perusahaan-perusahaan besar, juga termasuk usaha-usaha yang ada dalam rumah tangga. Jadi kayak usaha yang ada di rumahan, warung-warung dan lain sebagainya, usaha kecil, itu tetap masuk dalam pendataan kita,” ungkap Susi.
Salah satu fokus utama sensus kali ini adalah sektor ekonomi digital yang dinilai berkembang pesat dalam satu dekade terakhir.
“Yang akan juga digali lebih dalam nanti di sensus ekonomi 2026 ini adalah ekonomi digital. Ekonomi digital itu termasuk yang online, E-commerce itu yang bukan cuma yang besar tapi juga yang kecil-kecil yang cuma jualannya lewat live, kemudian jualannya dia lewat platform misalnya Shopee, Tokopedia dan lain sebagainya ,itu juga akan dicatat dalam sensus ekonomi kali ini,” terangnya.
Perkembangan model usaha berbasis daring inilah yang menjadi pembeda utama dibanding sensus sebelumnya.
“Kalau 10 tahun yang lalu mungkin kita belum ada yang namanya belanja-belanja online, yang jualannya cuma dari rumah, cuma live terus itu. Nah, perkembangan seperti itu yang akan ditangkap dari sensus ekonomi tahun ini. Jadi yang kelihatan berbeda sekali itu nanti,” jelasnya lagi.
Meski demikian, metode pendataan secara umum tetap sama. BPS hanya akan menggali informasi lebih mendalam, terutama untuk pelaku usaha berbasis digital.
“Metodenya sama, cuma kita akan menggali lebih dalam. Kan biasanya kalau e-commerce yang dirumahkan, pas ditanya, enggak lah kerja di rumah saja. Itu mungkin nanti ada lebih menggali pertanyaannya,” katanya.
BPS berharap seluruh pelaku usaha dapat menerima petugas sensus dengan baik dan memberikan jawaban yang jujur agar data yang diperoleh akurat serta tidak terjadi pendataan ganda maupun yang terlewat.
“Semoga tidak ada yang double di data atau yang tidak didata sama sekali. Jadi harapannya cakupannya akan semuanya terdata,” ujar Susi.
Ia juga menyampaikan pesan khusus kepada pelaku usaha untuk mendukung kelancaran sensus.
“Menjawab dengan jujur, itu saja sih ya. Diterima, petugas kami diterima, kemudian jawablah dengan jujur apa yang dipertanyakan,” pungkasnya.