Strategi Generasi Sandwich Putus Rantai Beban Finansial
- 30 Jul 2026 21:40 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Fenomena generasi sandwich—kondisi ketika seseorang harus menanggung beban finansial dua generasi sekaligus, yakni orang tua yang telah memasuki masa pensiun dan anak-anak yang masih membutuhkan biaya hidup serta pendidikan—kini menjadi tantangan ekonomi yang dihadapi banyak pekerja usia produktif. Tanggung jawab yang datang secara bersamaan tersebut kerap memicu tekanan finansial, menguras tabungan, hingga berdampak pada kondisi mental akibat kekhawatiran terhadap masa depan keluarga.
Akademisi Universitas Jambi (Unja), Ahmad Soleh, mengatakan bahwa untuk keluar dari tekanan tersebut diperlukan pendekatan yang rasional, komunikasi yang terbuka di dalam keluarga, serta strategi pengelolaan keuangan yang terencana. Menurutnya, pembagian alokasi dana harus dilakukan secara terukur agar kebutuhan setiap anggota keluarga tetap terpenuhi tanpa mengorbankan stabilitas keuangan jangka panjang.
"Masalah utama generasi sandwich bukan hanya soal besarnya pengeluaran, tetapi juga rasa cemas akan masa depan finansial anak-anak mereka kelak. Kuncinya adalah keberanian untuk menata ulang skala prioritas dan memutus siklus ini sejak sekarang," ujar Ahmad Soleh, Kamis 30 Juli 2026.
Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menyusun prioritas kebutuhan berdasarkan tingkat urgensi. Pengeluaran pokok seperti kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak, dan kesehatan harus menjadi fokus utama, sementara pengeluaran konsumtif yang tidak mendesak sebaiknya dikurangi. Di sisi lain, komunikasi yang terbuka dengan orang tua maupun pasangan juga penting agar setiap anggota keluarga memahami kondisi keuangan dan dapat bersama-sama mencari solusi terbaik.
Ahmad Soleh juga menyarankan agar masyarakat memanfaatkan program perlindungan kesehatan dasar yang disediakan pemerintah, seperti BPJS Kesehatan, khususnya bagi orang tua. Dengan adanya jaminan kesehatan, risiko munculnya pengeluaran besar akibat biaya pengobatan mendadak dapat ditekan, sehingga kondisi keuangan keluarga menjadi lebih terjaga.
Selain memenuhi kebutuhan keluarga saat ini, ia mengingatkan pentingnya mempersiapkan masa depan melalui dana pensiun mandiri, tabungan darurat, dan perlindungan asuransi jiwa. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan sebagian penghasilan secara konsisten merupakan investasi jangka panjang yang akan membantu seseorang tetap mandiri secara finansial saat memasuki usia pensiun. Dengan demikian, anak-anak di masa depan tidak lagi harus memikul beban sebagai generasi sandwich, sehingga siklus tekanan ekonomi antargenerasi dapat diputus secara bertahap.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....