Era Kolonial, Kereta Api untuk Kepentingan Militer dan Eksploitasi Kekayaan Alam

  • 28 Sep 2026 16:54 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Sejarah kereta api di Pulau Sumatera memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan Pulau Jawa. Jika di Jawa kereta api dibangun untuk mobilisasi penduduk dan perkebunan, di Sumatera perkeretaapian lahir dari rahim kepentingan militer dan eksploitasi kekayaan alam (tambang & komoditas ekspor) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan perusahaan swasta.

Karena dibangun secara terpisah berdasarkan kebutuhan komoditas di setiap wilayah, jaringan rel di Sumatera tidak pernah tersambung dan terbagi menjadi empat wilayah bersejarah:

Aceh (Atjeh Tram / Atjeh Staats Spoorwegen) – Dimulai 1876

Tujuan Awal: Murni untuk kepentingan militer.

Sejarah Singkat: Jalur pertama dibangun pada tahun 1876 menghubungkan Banda Aceh dengan pelabuhan Ulee Lheue. Jalur ini digunakan oleh militer Belanda untuk mengirim pasukan dan logistik perang selama Perang Aceh. Karena medan perang yang dinamis, ukuran rel dibuat lebih kecil (lorong sempit/narrow gauge) agar lebih fleksibel. Baru pada 1 Januari 1916, pengelolaannya dialihkan untuk keperluan komersil dan angkutan barang hasil bumi.

Sumatera Barat (Sumatra Staats Spoorwegen) – Dimulai 1887

Tujuan Awal: Eksploitasi batu bara.

Sejarah Singkat: Penemuan batu bara berkualitas tinggi oleh geolog Willem Hendrik de Greve di Ombilin, Sawahlunto pada tahun 1868 memicu megaproyek ini. Pada 6 Juli 1887, konstruksi rel pertama dimulai dari Pulau Air ke Padang Panjang. Rel ini membelah perbukitan terjal (menggunakan teknologi rel gigi) untuk menyambungkan tambang pedalaman Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur) di Padang demi mempercepat ekspor dunia.

Sumatera Utara (Deli Spoorweg Maatschappij / DSM) – Dimulai 1883

Tujuan Awal: Angkutan hasil perkebunan tembakau dan karet.

Sejarah Singkat: Berbeda dengan wilayah lain yang dibangun negara, jalur di Sumut dibangun oleh perusahaan swasta bernama DSM. Konsesi pertama dimulai pada tahun 1883 dengan rute Labuhan Deli menuju Medan untuk mengangkut daun tembakau Deli yang saat itu sangat merajai pasar cerutu Eropa. Jalur swasta ini menjadi salah satu yang paling menguntungkan secara bisnis di masa kolonial.

Sumatera Selatan & Lampung (Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen / ZSS) – Dimulai 1914

Tujuan Awal: Angkutan batu bara dan logistik wilayah selatan.

Pembangunan dimulai serentak pada tahun 1914 di dua ujung berbeda: jalur utara dari Kertapati (Palembang) menuju Prabumulih, dan jalur selatan dari Pelabuhan Panjang (Lampung) menuju Tanjungkarang. Kedua ujung ini akhirnya tersambung penuh pada tahun 1927. Jalur ini utamanya menyokong pengangkutan batu bara dari tambang Tanjung Enim (Muara Enim) menuju pelabuhan untuk didistribusikan ke luar pulau.

Era Pasca-Kemerdekaan hingga Modernisasi

Setelah Indonesia merdeka, seluruh aset perkeretaapian ini dinasionalisasi di bawah jawatan kereta api negara. Sumatera sempat mengalami era transisi penting—salah satunya "dieselisasi" pada tahun 1960-an dan 1970-an ketika lokomotif uap kuno mulai digantikan oleh lokomotif diesel legendaris seperti seri BB302 buatan Henschel, Jerman Barat. Seiring berjalannya waktu, beberapa jalur penumpang meredup dan mati akibat kalah bersaing dengan transportasi darat pasca-pembangunan jalan raya. Namun, saat ini sisa-sisa jalur sejarah tersebut sedang dibangkitkan kembali lewat proyek reaktivasi nasional.

Jaringan kereta api di Pulau Sumatera saat ini masih terpisah-pisah dan terbagi menjadi beberapa wilayah operasional (Divisi Regional/Divre) yang belum tersambung secara utuh dari ujung ke ujung pulau. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kini tengah menggarap megaproyek Trans Sumatera Railway untuk menghubungkan wilayah paling utara hingga paling selatan pulau dengan perkiraan total investasi mencapai Rp350 triliun hingga Rp448 triliun.

Berikut adalah pembagian jalur kereta api aktif serta peta rencana pengembangannya saat ini:

Peta Jalur Aktif Saat Ini

Jalur kereta api penumpang dan barang yang beroperasi di Sumatera tersebar di 4 wilayah utama:

Divre I Sumatera Utara & Aceh: Melayani rute komuter dan jarak menengah seperti Medan–Rantau Prapat (KA Sribilah Utama), Medan–Tanjung Balai (KA Putri Deli), serta kereta bandara menuju Kualanamu. Di Aceh, terdapat jalur perintis lokal singkat.

Divre II Sumatera Barat: Terfokus pada layanan komuter lokal dan wisata seperti KA Pariaman Ekspres (Padang–Naras) dan Minangkabau Ekspres (akses bandara).

Divre III Palembang & Divre IV Tanjungkarang: Jalur tersibuk di Sumatera yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Lampung. Selain angkutan penumpang (KA Rajabasa, KA Bukit Serelo, dan KA Sindang Marga), jalur ini merupakan tulang punggung logistik nasional untuk angkutan batu bara.

Proyek Trans Sumatera & Reaktivasi Jalur

Untuk mewujudkan jalur terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bakauheni (Lampung), KAI menjalankan peta jalan (road map) pengembangan perkeretaapian:

Prioritas Pertama (Aceh–Sumut): Menghubungkan Banda Aceh dengan Besitang sepanjang 478 kilometer, yang saat ini masuk dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) dan reaktivasi lintas Medan-Banda Aceh.

Reaktivasi Jalur Sumatera Barat: Menghidupkan kembali jalur-jalur mati bersejarah peninggalan Belanda sepanjang 248,5 km, termasuk ruas Kayu Tanam–Padang Panjang–Sawahlunto yang ditargetkan mulai aktif untuk mendorong mobilitas dan pariwisata daerah.

Pembangunan Jalur Baru: Rencana pembangunan rel baru sepanjang 1.110 km berdasarkan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) yang mencakup rute Rantau Prapat–Dumai, Duri–Pekanbaru, Pekanbaru–Rengat, Rengat–Jambi, hingga Lubuklinggau–Bengkulu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....