Seni Bela Diri Taekwondo Berbasis pada Ekosistem Klub

  • 04 Sep 2026 11:38 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID, Jambi - Hari Taekwondo Internasional (atau World Taekwondo Day) diperingati setiap tanggal 4 September. Peringatan ini merayakan sejarah, perkembangan, serta nilai-nilai kedisiplinan dan persaudaraan global yang diajarkan oleh seni bela diri asal Korea Selatan ini.

Sejarah Singkat

Penetapan tanggal 4 September merujuk pada momen bersejarah di tahun 1994. Saat itu, dalam Sidang Komite Olimpiade Internasional (IOC) ke-103 di Paris, Prancis, taekwondo secara resmi diterima sebagai cabang olahraga resmi Olimpiade. Untuk mengenang pencapaian besar tersebut, World Taekwondo kemudian meresmikan tanggal 4 September sebagai Hari Taekwondo Sedunia pada tahun 2006.

Di Indonesia sendiri, perkembangan olahraga ini sangat pesat dengan rutinnya diselenggarakan berbagai kejuaraan berskala internasional, seperti Asian Taekwondo Indonesia Open Championships yang sukses digelar beberapa waktu lalu.

Perkembangan taekwondo telah bertransformasi secara luar biasa dari sekadar teknik pertahanan diri kuno di Semenanjung Korea hingga menjadi salah satu olahraga bela diri modern yang paling populer dan paling banyak dimainkan di seluruh dunia. Secara garis besar, perjalanan evolusi taekwondo dibagi ke dalam dua cakupan utama: perkembangan global (dunia) dan perkembangannya secara spesifik di Indonesia.

Perkembangan Taekwondo di Dunia

Taekwondo modern berakar dari seni bela diri tradisional Korea seperti Subak, Taekkyon, dan Takyon. Pasca-kemerdekaan Korea pada tahun 1945, olahraga ini disistematisasikan dan mulai diperkenalkan secara global.

Tahun 1973 (Era Federasi): World Taekwondo (WT) didirikan oleh Kim Un-yong di Seoul, Korea Selatan. Pada tahun ini pula Kejuaraan Dunia Taekwondo pertama kali digelar.

Tahun 1988 & 2000 (Panggung Olimpiade): Setelah menjadi olahraga demonstrasi di Olimpiade Seoul 1988, taekwondo resmi dipertandingkan sebagai cabang olahraga perebutan medali pada Olimpiade Sydney 2000.

Era Modern (Teknologi PSS): Untuk menjaga transparansi dan keadilan penilaian, taekwondo modern mengadopsi Protector and Scoring System (PSS), yaitu sensor elektronik pada pelindung tubuh (hogu) dan kaos kaki atlet untuk mendeteksi poin tendangan secara otomatis.

Perkembangan Taekwondo di Indonesia

Taekwondo pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an oleh Mauritsz Dominggus di Jakarta Utara. Sempat mengalami dualisme organisasi antara FTI (Federasi Taekwondo Indonesia) dan PTI (Persatuan Taekwondo Indonesia), kedua kubu akhirnya bersatu membentuk Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI).

Perkembangan taekwondo di Provinsi Jambi saat ini sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan agresif, baik dari segi kuantitas klub (dojang), intensitas kompetisi lokal, hingga torehan prestasi di tingkat nasional.

Pemerintah daerah bersama Pengurus Provinsi Taekwondo Indonesia (Pengprov TI) Jambi terus bersinergi guna menggeser peta kekuatan taekwondo agar tidak lagi hanya berpusat di Pulau Jawa.

Berikut adalah beberapa indikator utama perkembangan taekwondo di Jambi saat ini:

Konsolidasi Organisasi & Manajemen Baru

Guna memperkuat tata kelola olahraga, Pengprov TI Jambi baru saja menyelenggarakan Musyawarah Provinsi Luar Biasa (Musprovlub) di Sekretariat KONI Jambi. Langkah strategis ini berfokus pada tiga tantangan utama:

Memperluas pembinaan atlet sejak usia dini.Meningkatkan standarisasi serta kualitas pelatih dan wasit daerah.Memperkuat manajemen organisasi agar lebih profesional dan transparan.

Menjamurnya Klub (Dojang) dan Pembinaan Usia Dini

Olahraga ini tidak lagi hanya diminati di wilayah perkotaan, melainkan sudah merambah luas ke berbagai kabupaten di Jambi (seperti Tebo dan Sarolangun). Sebagai contoh, di Kota Jambi saja saat ini sudah aktif lebih dari 35 klub (dojang) taekwondo. Antusiasme ini didukung oleh ajang rutin seperti Liga Pelajar Taekwondo yang sukses menjaring ratusan atlet muda potensial tingkat SD hingga SMA.

Maraknya Turnamen Tingkat Daerah

Ajang kompetisi di Jambi semakin kompetitif untuk menguji mental bertanding para atlet muda:

Kejuaraan Provinsi (Kejurprov): Menjadi ajang tahunan yang paling bergengsi. Kota Jambi keluar sebagai juara umum pada Kejurprov 2025 di Sungai Penuh.

Piala Wali Kota Jambi: Event berkala seperti Piala Wali Kota Jambi diikuti hingga 500 atlet dari berbagai kategori usia (pra-cadet hingga senior).

Gubernur Cup Jambi Open: Turnamen terbuka yang secara konsisten mengundang partisipasi klub-klub tangguh dari luar provinsi.

Prestasi di Kancah Nasional

Taekwondoin Jambi mulai menunjukkan taringnya melalui berbagai perolehan medali yang membanggakan:

Kejurnas Kapolri Cup ke-7 2026: Kontingen Taekwondo Polda Jambi sukses membawa pulang 5 medali (1 perak, 4 perunggu).

Seleksi Nasional & PON: Atlet andalan Jambi, Muhammad Wijaya Hamzah, sukses meraih medali emas pada Seleksi Nasional awal 2026 setelah sebelumnya meraih perak pada PON Bela Diri.

Secara umum, pendanaan atau biaya penyelenggaraan kejuaraan taekwondo (baik tingkat regional seperti di Jambi, nasional, maupun internasional) diatur berdasarkan Undang-Undang Keolahragaan. Biaya tersebut dikumpulkan melalui metode multi-source (banyak sumber) yang memadukan kontribusi pemerintah, swasta, serta masyarakat.

Sumber anggaran kejuaraan taekwondo berasal dari kategori utama berikut:

Anggaran Pemerintah (Sektor Publik)

Pemerintah memberikan dukungan dana sebagai bagian dari program pembinaan atlet berprestasi jangka panjang. Dana ini disalurkan melalui beberapa pintu:

APBN (Kemenpora): Khusus untuk kejuaraan berskala nasional (Kejurnas) atau internasional yang diadakan di Indonesia (seperti Asian Taekwondo Indonesia Open Championships).

APBD (Pemerintah Daerah): Pemerintah Provinsi atau Kota/Kabupaten mengalokasikan dana melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) untuk mendukung kejuaraan lokal, seperti Kejurprov atau Piala Wali Kota.

Hibah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia): KONI Jambi atau kabupaten/kota rutin mengucurkan dana hibah tahunan kepada pengurus cabang (Pengprov/Pengkot TI) untuk biaya operasional turnamen resmi dan pelatnas daerah.

Dana dari Masyarakat & Peserta (Mandiri)Seni bela diri taekwondo berbasis pada ekosistem klub (dojang) yang sangat aktif, sehingga pembiayaan swadaya dari masyarakat memegang peranan besar:

Biaya Pendaftaran Atlet (Registration Fee): Setiap atlet yang mendaftar (baik kategori pemula maupun prestasi) membayar uang pendaftaran. Pada kejuaraan lokal seperti Gubernur Cup Jambi, biaya pendaftaran berkisar antara Rp350.000 hingga Rp375.000 per atlet. Dana ini digunakan untuk menyewa sistem penilaian digital (PSS), medali, sertifikat, dan honor wasit.

Iuran Anggota / Kas Dojang: Klub atau kontingen sering kali menggunakan uang kas internal hasil iuran bulanan anggotanya untuk membantu akomodasi dan transportasi atlet ke lokasi kejuaraan.

Sponsor Swasta dan Kemitraan (Sponsorship)Pihak penyelenggara atau PBTI bekerja sama dengan perusahaan swasta maupun BUMN yang bertindak sebagai sponsor utama atau mitra pendukung.

Sebagai contoh, pada turnamen resmi PBTI, instansi perbankan nasional seperti Bank BTN sering kali menjadi salah satu sponsor penyokong dana.Perusahaan lokal, industri olahraga (pakaian olahraga/peralatan taekwondo), serta media juga kerap menyumbang kompensasi dalam bentuk dana segar maupun fasilitas perlengkapan pertandingan sebagai imbalan promosi iklan.

Pendapatan Komersial Pertandingan (Sport Industry)

Untuk kejuaraan terbuka yang berskala besar, panitia juga memanfaatkan sektor industri olahraga untuk menambah pendapatan:

Penjualan Tiket Masuk: Penonton atau suporter yang ingin menyaksikan jalannya pertandingan di tribun dikenakan tiket masuk harian.

Penyewaan Lapak (Booth / Tenant): Panitia membuka stan makanan, minuman, hingga penjualan merchandise resmi (baju, dobok).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....