Hari Hutan Hujan Sedunia
- 22 Jun 2026 12:38 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi - Tanggal 22 Juni diperingati secara internasional sebagai Hari Hutan Hujan Sedunia (World Rainforest Day).
Peringatan ini pertama kali dicetuskan oleh organisasi Rainforest Partnership pada tahun 2017 untuk meningkatkan kesadaran global akan pentingnya melindungi hutan hujan yang tersisa di bumi.
Mengapa Hutan Hujan Sangat Penting?
Penyerap Karbon: Menyerap miliaran ton karbon dioksida untuk melawan perubahan iklim.
Rumah Keanekaragaman Hayati: Menjadi habitat bagi lebih dari separuh spesies tumbuhan dan hewan di dunia.
Sumber Oksigen: Menghasilkan sekitar 20% oksigen yang kita hirup setiap hari.
Penyedia Air Bersih: Mengatur siklus air global dan menjaga ketersediaan air bersih.
Sumber Obat-obatan: Menjadi asal dari seperempat bahan aktif obat-obatan modern.
Ancaman Utama Saat IniDeforestasi: Penebangan liar untuk industri kayu.
Alih Fungsi Lahan: Pembukaan hutan untuk perkebunan skala besar dan peternakan.
Kebakaran Hutan: Akibat cuaca ekstrem dan pembakaran disengaja.
Cara Mengambil Tindakan
Kurangi Konsumsi: Kurangi penggunaan kertas dan tisu harian.
Pilih Produk Berkelanjutan: Beli produk dengan sertifikasi ramah lingkungan (seperti logo FSC).
Dukung Konservasi: Donasi atau suarakan kampanye pelestarian hutan di media sosial.
Hari Hutan Hujan Sedunia (World Rainforest Day) dicanangkan pertama kali pada tanggal 22 Juni 2017 oleh organisasi non-profit internasional Rainforest Partnership yang berbasis di Austin, Texas, Amerika Serikat.
Peringatan ini dibentuk sebagai respons mendesak terhadap krisis deforestasi global yang mengancam keberlangsungan hidup bumi.
Latar Belakang Pencanangan
Krisis Deforestasi Akut: Setiap tahun, bumi kehilangan jutaan hektar hutan hujan akibat penebangan liar, pembukaan lahan sawit, peternakan, dan kebakaran hutan. Kehilangan ini mempercepat laju pemanasan global secara drastis.
Benteng Pertahanan Iklim: Hutan hujan bertindak sebagai penyerap karbon alami terbesar di dunia (carbon sink). Kerusakan hutan melepaskan kembali miliaran ton karbon ke atmosfer, memicu cuaca ekstrem.
Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 80% spesies darat dunia tinggal di ekosistem ini. Ketika hutan rusak, ribuan spesies flora dan fauna endemik menghadapi kepunahan massal.
Hak Masyarakat Adat: Hutan hujan merupakan rumah dan sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat adat yang menjaga ekosistem tersebut secara turun-temurun.
Sejarah Perkembangan Gerakan
2017 (Awal Mula): Rainforest Partnership bersama jaringan koalisi global meluncurkan peringatan pertama pada 22 Juni 2017 untuk mengedukasi publik dan memicu aksi nyata.
2021 (KTT Global Pertama): Untuk memperluas dampak, diluncurkan World Rainforest Day Summit (Konferensi Tingkat Tinggi Global). KTT ini berhasil menyatukan lebih dari 100 organisasi lingkungan dari puluhan negara untuk berkolaborasi.
Perkembangan hingga Kini: Memasuki tahun ke-10 perayaannya pada tahun 2026 ini, gerakan ini telah didukung oleh ratusan lembaga, kelompok masyarakat adat, peneliti, dan pelaku bisnis di 6 benua. Kampanye tahun ini mengusung tema "The Forest Within You" untuk mengingatkan bahwa manusia dan hutan hujan saling terhubung erat.
Bagi Indonesia yang memiliki salah satu hutan hujan tropis terbesar dunia setelah Amazon dan Kongo, momentum ini menjadi pengingat strategis untuk memperketat perlindungan kawasan konservasi dari ancaman degradasi lahan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....