Menghadap ke Arah Kiblat Menjadi Salah Satu Syarat Sahnya Sholat

  • 09 Agt 2026 08:31 WIB
  •  Jambi
Poin Utama
  • Tidak sempurna salat seorang muslim bila tidak menghadap kiblat
  • Masih banyak tempat ibadah baik masjid maupun mushola yang menyimpang atau tidak menghadap Ka’bah secara benar
  • Bumi yang berbentuk bulat mengharuskan umat Muslim menghadap ke arah kiblat sesuai dengan posisi geografisnya masing-masing

RRI.CO.ID, Jambi - Menghadap kiblat yaitu Ka’bah merupakan salah satu syarat sah salat. Tidak sempurna salat seorang muslim bila tidak menghadap kiblat. Hal tersebut termaktub dalam QS. Al Baqarah ayat 149, yang artinya:

“Dari mana pun engkau (Nabi Muhammad) keluar, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Sesungguhnya (hal) itu benar-benar (ketentuan) yang hak (pasti, yang tidak diragukan lagi) dari Tuhanmu. Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Menghadap arah kiblat merupakan hal yang sangat urgen bagi pelaksanaan ibadah bagi umat Islam, sebagaimana kesepakatan para ulama.

Dalam program acara dialog interaktif Mutiara Pagi di Programa satu RRI Jambi bersama narasumber Ustadz Ahmad Pamuji. S.Ag, menyampaikan bahwa penentuan arah kiblat meniscayakan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, masih banyak tempat ibadah baik masjid maupun mushola yang menyimpang atau tidak menghadap Ka’bah secara benar. Selisih penyimpangan 1 derajat di daerah khaltulistiwa saja menimbulkan 111 km menyimpang atau menjauhi dari titik Ka’bah.

Bumi yang berbentuk bulat mengharuskan umat Muslim menghadap ke arah kiblat sesuai dengan posisi geografisnya masing-masing. Dalam konteks Indonesia, kalau arah kiblat lurus menghadap ke Barat maka akan melewati Somalia di Benua Afrika dan tidak akan pernah sampai ke titik Ka’bah. Kalau dihitung dari titik Barat, maka besarannya sekitar 20 sampai 26 derajat ke arah kanan atau bisa sangat bervariasi.

Pada saat ini metode yang sering digunakan dalam pengukuran arah kiblat ada macam-macam seperti memanfaatkan bayang-bayang kiblat, memanfaatkan arah utara geografis (true north), dan mengamati ketika matahari tepat berada di atas Kakbah.

Namun jika ingin melalui proses perhitungan arah kiblat, maka dibutuhkan data antara lain: lintang tempat (φ), bujur tempat (λ), lintang Ka’bah (φk) dan bujur Kakbah (λk). Untuk lintang dan bujur tempat telah tersedia. Hanya saja daftar tersebut perlu diverifikasi dengan alat kontemporer.

Banyak masyarakat yang mulai menyadari pentingnya menentukan arah kiblat yang akurat. Hal ini didukung oleh kemajuan teknologi yang memungkinkan umat muslim untuk lebih mudah memastikan arah kiblat, baik menggunakan aplikasi kompas kiblat di ponsel pintar maupun perangkat kompas manual.

“Selain di aplikasi android maupun kompas hendaknya umat muslim juga memastikan keakuratan arah kiblat dengan berbagai sumber atau beberapa metode. Bisa menambah dengan mengamati bayangan matahari pada waktu-waktu tertentu yang telah dihitung secara ilmiah atau dikenal waktu istimewa,” kata Ustadz Ahmad Pamuji.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....