Jenis Permainan Anak di sesuai Perkembangan Usia

  • 30 Jun 2026 11:32 WIB
  •  Jambi

RRI. CO. ID Jambi - Psikolog klinis dan keluarga lulusan Program Studi Magister Psikologi Profesi Universitas Gadjah Mada (UGM), Pritta Tyas, M.Psi., menjelaskan bahwa aktivitas bermain anak sebaiknya disesuaikan dengan tahap perkembangan usianya. Dengan demikian, bermain tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mampu memberikan stimulasi yang optimal bagi tumbuh kembang anak.

Menurut Pritta, pembagian aktivitas bermain berdasarkan tahapan usia mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh tokoh pendidikan dunia, Dr. Maria Montessori. Pendekatan tersebut dirancang agar setiap jenis permainan memiliki manfaat yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak.

Co-Founder Bumi Nusantara Montessori itu menjelaskan bahwa hasil berbagai riset menunjukkan permainan pada tahap awal perkembangan didominasi oleh aktivitas motorik, yaitu permainan yang melibatkan gerakan tubuh dan keterampilan tangan. Melalui permainan semacam ini, anak belajar mengembangkan koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, serta kemampuan memecahkan masalah secara alami.

Pritta merinci, pada usia sekitar delapan tahun, kebutuhan utama anak adalah bergerak secara aktif. Karena itu, anak dianjurkan melakukan aktivitas fisik atau olahraga sedikitnya 180 menit setiap hari. Aktivitas tersebut dapat berupa bermain di luar ruangan, bersepeda, berlari, atau permainan lain yang melatih kemampuan motorik kasar.

Selanjutnya, memasuki usia 9 hingga 15 tahun, perkembangan anak mulai didominasi oleh kebutuhan bersosialisasi dengan teman sebaya. Pada fase ini, interaksi sosial menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan berkomunikasi.

Sebagai tenaga pengajar bersertifikat Diploma Montessori, Pritta mengatakan berbagai aktivitas seperti bermain bersama di luar ruangan, memasak, berkebun, atau membuat kerajinan tangan sangat bermanfaat untuk melatih kerja sama, kreativitas, dan rasa tanggung jawab anak.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa durasi bermain tetap perlu diatur secara bijaksana. Aktivitas bermain yang bersifat hiburan, termasuk penggunaan gawai, sebaiknya dibatasi sekitar 60 hingga 90 menit per hari. Pembatasan tersebut bertujuan menanamkan disiplin dalam mengatur waktu, sekaligus memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar, beristirahat, serta menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Pritta juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak saat bermain. Pendampingan bukan berarti mengontrol secara berlebihan, melainkan memberikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mengambil keputusan, dan belajar menghadapi tantangan. Dengan cara itu, anak dapat mengembangkan resiliensi atau kemampuan bangkit ketika menghadapi kesulitan.

Ia berharap para orang tua memahami tahapan perkembangan anak sesuai usianya sehingga mampu memilih dan menyediakan jenis permainan yang tepat. Dengan dukungan tersebut, proses belajar melalui bermain akan berlangsung lebih efektif, sementara orang tua dapat memberikan waktu, perhatian, dan pendampingan yang dibutuhkan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....